Sabtu, 17 Desember 2011

Numb Girl Chapter 3: Part 3 Confilct in Reunion !, a naruto fanfic - FanFiction.Net

Numb Girl Chapter 3: Part 3 Confilct in Reunion !, a naruto fanfic - FanFiction.Net

Minna san, saya akan melanjutkan Fic ini walaupun penulisan banyak Typo yang agak sulit dihilangkan. Saya mohon maaf jika chapter kali ini kurang memuaskan kalian *pundung*

Life Like Is Wind, Fly On The Sky If You Want **

Gracia De Mouis Lucheta~`

For Anime Naruto Lovers **SasuSaku Lovers**

Disclaimer : Masih punya Masashi sensei **

Rated : T-een

Genre : Angst/Romance/Drama/Hurt-Comfort

Warning : Agak ke-OOC an, Au banyak Typo bertebaran


.

.

In Akatsuki Café at 20.38 p.m

Suasana ruangan itu mendadak diam karena adanya seorang gadis berambut pink membuat mata mereka tertuju padanya. Salah satu dari mereka pun agak terkejut melihat perubahan pada gadis itu, yaitu Sasuke Uchiha.

"Sakura"

Sang gadis merasa terpanggil pun menoleh ke arah pemuda bermata onyx dengan rambut mencuat keatas, Mereka pun saling bertatapan cukup lama, tanpa menyadari orang sekitar keduanya memperhatikan mereka.

"Sasuke Uchiha." Ucap pelan gadis itu. Kemudian dia melihat sekilas salah satu gadis seumuran dengannya, merasa mengingat dirinya dulu, tetapi dia berusaha melupakan itu dengan menggeleng-geleng kepalanya." Jangan ingat itu lagi!"

Gadis bermata Emerlad itu menggerakan kakinya mengarah ke meja nomor 45 itu mendengar suara nan lembut "Ayo, Sakura. Jangan malu-malu duduk bersama kami." Kata gadis bermata lavender menginterupsi dengan mengajaknya untuk menghampiri mereka.

Gadis bernama Sakura itu memicingkan matanya seolah-olah mengintrograsi siapapun tertangkap oleh mata emerald nya. Dia teringat kembali masa lalunya lagi ketika masih bersekolah di Konoha High School. Itupun tidak bisa dihindarinya..


Flashback

.

.

"Hinata, ayo kejar kami!" Ucap nyaring khas gadis bermata Emerlad itu kepada temannya yang berada dibelakangnya.

"Sa-Sakura-chan, larinya pelan-pelan dong! Aku nggak kuat!" Ucap gadis itu merasa ngos-ngosan mengayuh kakinya menyusul temannya itu.

Tiba-tiba datang seorang gadis berambut pirang menghampiri mereka berdua.

"SAKURA…HINATA, kalian ini masih saja seperti itu! Dasar bodoh." Teriak gadis bermata Aquamarine itu melipat tangannya seolah-olah seorang guru killer menakuti murid-muridnya.

"Eh? Bodoh. Inoo, ayo ulangi sekali lagi perkataan itu!"Ucap Sakura menghentikan langkahnya hingga

Bruuk.

"Adauw, sakit Sakura-chan.." Ucap Hinata meringis kesakitan memegang kepalanya karena dia menabrak tubuh gadis berambut pink itu.

"Ma-maaf, ya Hinata." Ucap Sakura mendekati temannya itu.

Gadis bermata Aquamarine menghela nafasnya juga mendekati dua temannya dengan langkah pelan-pelan.

"Hayooo, kalian berdua kena karma. Itu semua karena melanggar peraturanku!" Ucap pelan gadis itu mengagetkan kedua temannya itu.

"Ino-pig, kau hampir membuat kami mati mendadak!" Kata Sakura mengelus dadanya dan kemudian menyikut lengan tangan temannya itu.

Itulah secuil kebahagiaan yang dialami oleh mereka, tetapi pada suatu hari dimana 13 October terjadi suatu kejadian yang-


Tidak..tidak, aku tak mau mengingatnya kembali! Aku…Arghhh. Ucap sang gadis itu memegang kepalanya hingga badannya terhuyung kebawah.

"Sa-Sakura.." Ucap gadis bermata Aqua marine yang panik mencoba menangkap tubuh sahabatnya itu yang berada disampingnya.

Hupp..

Suara itu membuat teman-temannya melihat aksi pemuda bernama Sasuke Uchiha sigap menangkap tubuh mungil gadis bermata emerald itu.

"Sasuke, bagaimana kau bisa menangkapnya secepat itu?" Ucap Shikamaru kaget melihat kejadian singkat bahkan lima detik padahal pemuda berambut Dark Blue itu dari tadi tak bergeming dari tempat duduknya. Tapi kok bisa?

Pemuda itu menoleh ke arah temannya itu membentuk senyuman tipis "Aku ini keturunan Uchiha, Shikamaru. Jadi kejadian tadi hal yang biasa bagiku." Ucap khas milik Sasuke Uchiha.

Tetapi, sang kakak masih kebingungan akan hal ini membuat prasangka yang tidak-tidak akan adiknya "Sasu-chan, apa kau memiliki hubungan dengan gadis yang berada digendonganmu itu?" Tanya kakak laki-lakinya ragu-ragu.

"Cukup, Itachi-nii! Jangan sebut nama itu lagi didepan teman-temanku! Dan satu lagi, ini hanya objek penelitianku. Jadi jangan berpikiran macam-macam!" Ucap kesal dari mulut Uchiha bungsu itu.

"Sasuke, kau yakin meneliti psikologis gadis itu? Apakah kau menjamin jika dia menyukaimu suatu saat?" Ucap pemuda berambut merah darah seolah tak yakin akan hal ini.

"Kau meragukan kejeniusanku, Gaara-san. Hal yang seperti itu lihat saja nanti!" Seringai Sasuke menjurus ke arah pemuda berambut merah.

Suasana pun mencekam nan dingin menguasai aura mereka, hanya seorang gadis yang bernama Sakura Haruno. Ya, Haruno membuat sekeliling nya menjadi membisu.

Kemudian Pemuda berambut jabrik itu melamunkan sesuatu pada diri gadis yang berada digendongan sahabatnya. " Sakura, apa yang terjadi denganmu selama ini?"

Sasuke pun membawa gadis bernama Sakura menuju kursi tempat ia duduk dan menyenderkan ke dinding ruangan itu. "Dobe, aku jadi ingat sesuatu."

Pemuda yang dipanggil "Dobe" menoleh kearah mata onyx milik Uchiha bungsu itu, "Sesuatu? Apa itu?" Tanyanya.

"Mengenai gadis ini, apakah kau mengenalnya sejak dulu?" Ucap pemuda itu mengarah pertanyaan kepada Naruto Uzumaki, teman eh bahkan sahabatnya dengan tatapan mengintrograsi.

Sluurp, bunyi sedotan minuman Gaara menganggu pembicaraan antara Sasuke dan Naruto kemudian diapun membuka suara "Hmm,Sasuke! Kenapa kau sangat penasaran dengan gadis itu? Toh kenapa kau bertanya pada kami seolah-olah kami tahu akan hal ini." Ucapnya.

"Gaara, ini memang objek penelitianku. Wajar saja aku penasaran bukan?" Seringai Sasuke mengarah pemuda berambut merah darah dengan sorotan tajam.

"Hn."

"Gaara, apakah kau tahu sesuatu yang kami tidak ketahui?" Tanya Shikamaru menaikkan alisnya.

"Menurutmu?" Pertanyaan balik mengarah ke arah pemuda ber-klan Nara itu.

"Cukup, kalian para laki-laki! Di sini aku yang membawa Sakura datang di tengah-tengah kita! Jadi jangan membuat reunian ini jadi kacau!" Bentak gadis bernama Ino Yamanaka itu menghentikan tatapan, seringai bahkan suasana mencekam di ruangan itu.

"Ino-san, kau membawa Sakura-chan ke sini untuk mengetahui siapa yang membuat sahabatmu itu menjadi Numb Girl! Iya kan!" interupsi Matsuri membaca pikiran gadis bermata Aquamarine itu.

"Matsuri-san, ternyata perkembanganmu cukup pesat ya bisa membaca pikiran orang!" Ucap Ino menatap tajam ke arah gadis yang berada di samping Gaara itu.

"Oh ya, aku bertanya sesuatu padamu. Gaara! Bukankah kau sepupunya sahabatku? Eh-apakah aku salah?" Lanjutnya.

Semuanya mengarah kepada pemuda bernama Gaara itu kecuali Naruto Uzumaki.

"Iya, memang ada apa?" Suara nan datar keluar dari mulut Gaara.

Ino Yamanaka itu terpancing emosi karena jawaban kurang memuaskan dari pemuda berambut merah darah. Kemudian tiba-tiba Ino menarik kerah baju Gaara. "Seharusnya kau tahu apa penyebab dari berubahnya sahabatku ini!"

"….." Gaara tak bergeming sedikitpun.

"Pasti kau yang-"

Tangan kekar milik Shikamaru melepas paksa tangan tunangannya itu dari kerah baju milik Gaara. " Cukup, Ino! Jangan terbawa emosi.." kemudian pemuda berambut nanas itu mengatakan sesuatu kepada pemuda berambut merah darah yang berada didekatnya "-Dan kau, Gaara. Aku bingung dengan pernyataan mu kemarin siang, kenapa kau membuat pernyataan itu seolah kau tak mengenal Sakura."

"Aku baru tahu dari kakakku, Bahwa aku sepupunya dari gadis bernama Sakura Haruno." Ucap Gaara menekan nada setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Cukuuup, aku tidak mau tahu. Aku yakin seratus persen kalau kau—" Ucap Ino menunjuk ke arah Gaara "-tahu akan hal ini, jadi aku akan bawa Sakura ke rumah—"

Pemuda bermata Onyx itu tiba-tiba menginterupsi pembicaraan "Biar aku yang membawa Sakura ke rumahku. Jadi ada yang keberatan dengan keputusanku?" Ucapnya meredam emosi yang menyeruak di ruangan itu.

"Sa-sasuke, apa yang akan kau lakukan dengan Sakura-chan?" Ucap Naruto memakai suffiks-chan dibelakang nama Sakura.

"Untuk jawaban pertanyaanku tadi, kita lanjutkan besok saja!" Ucap Sasuke langsung menggendong gadis itu ala Bridal Style dan membawanya keluar dari Akatsuki Café itu menuju ke mansion milik keluarganya.

"Sasuke, biar aku saja yang membawanya." Cegah Gaara menahan tubuh Pemuda berambut Dark Blue tetapi, Sasuke langsung melengos pergi tanpa menjawab apapun ucapan pemuda berambut merah darah itu.

"Sakura…" batin Gaara dalam hati.


.

Suara gemuruh hujan membasahi kota Konohagakure hingga hawa dingin menyeruak dimana-mana terutama pada salah satu mansion terkenal dan termegah di kota tersebut. suara mobil Merk Ferrari terbaru berwarna biru khas kesukaan pemiliknya memasuki gerbang rumahnya.

Ckiit, mobil itu berhenti tepat di mansion tersebut. sang pemuda berambut Dark Blue langsung membawa gadis yang berada di jok sebelahnya dengan ala Bridal Style-nya.

Pemuda itu tak peduli dengan apa kata beberapa pelayan yang melewatinya hingga seorang wanita cantik dengan rambut digelung panjang menghampiri kedua insan tersebut.

"Sasu-chan~~, siapa gadis itu? Apakah dia pacarmu?" tanya wanita dengan suara lembutnya.

Pemuda itu hanya menatap datar untuk menyembunyikan perasaan gugupnya menghadapi wanita yang tepat didepannya. "Kaa-san, ini hanya temanku kok. Bisakah aku membawanya ke kamarku?"

Wanita itu menghela nafas kemudian mengelus pelan rambut pink milik gadis yang berada di gendongan anak bungsunya itu. "Gadis yang sangat cantik, coba kalau dia jadi pacarmu. Kalian sangat cocok!"

"Kaa-san, aku pergi dulu. Permisi!" Ucap Sasuke meninggalkan ibunya dan memasuki kamarnya


In Akasuna Mansion at 22.10 p.m

.

.

Mobil Ferrari 00-5 berwarna hitam memasuki rumah bernuansa khas Jepang modern dengan dihiasi pohon-pohon Sakura dan sejumlah bunga-bunga harum nan elok. Sang pemuda yang memiliki tato Ai keluar dari mobilnya dan memasuki rumah peninggalan sang ayah yang telah meninggal dua tahun lalu.

Kamar nomor 34 bernuansa cokelat keemasan terdapat kasur berukuran King Size berwarna putih serta TV Plasma 47 inch serta Audio Speaker pemberian kakak laki-lakinya. Uugh, suara keluhan dari pemuda itu membaringkan tubuhnya di kasur nan nyaman dan meletakkan I-Phone 4 tepat disampingnya.

Kriett

Suara pintu dari kamar pemuda itu terbuka dan muncul seorang gadis berkuncir empat menyenderkan tubuhnya tepat dipinggir pintu kamar nomor 34.

"Gaara, apakah kau sudah menemukan dengan Sakura? Kutahu dia bersamamu di reunian tadi?" Tanya seorang gadis dua tahun lebih tua dari pemilik kamar tersebut.

Pemuda itu langsung menatap mata kakak kandungnya itu. Kaget, ya perasaan darimana itu muncul di benaknya. "Bagaimana Nee-san tahu kalau-"

"Dari Sasori-nii, dia kebetulan ada disana. Eh, bukannya kak Itachi bersama kalian juga? Kenapa tidak bertemu dengannya?" Ucap gadis yang bernama Temari itu dengan melipat tangannya juga menatap adik bungsunya tersebut.

Pemuda bernama Gaara menundukkan kepalanya menatap lantai menjadi fokusnya dengan memikirkan pernyataan dari tunangan sahabatnya bernama Ino Yamanaka.

"Seharusnya kau tahu apa penyebab dari berubahnya sahabatku ini!"

"Gaara, kau melamun?" Ucap Temari mendekatkan dirinya tepat dihadapan adik bungsunya.

Pemuda itu menggelengkan kepalanya pertanda tidak pada dirinya untuk pertanyaan kakak perempuannya. " Temari-nee, tinggalkan aku sendiri. Aku lelah."

"Baiklah, adikku sayang—Oh,ya. Besok barengan berangkatnya! Oyasumi nasaii~~" Ucap perempuan itu menjauh dan meninggalkan kamar adik bungsunya.

Tanpa sadar, pemuda bernama lengkap Gaara no Akasuna mengingat perkataan kakaknya siang tadi sebelum dia berangkat ke Akatsuki Café.

Flashback on Before Reunion

"Kakak ingin membicarakan sesuatu padamu, Gaara."

"Hn, lanjutkan saja!"

"Kau tahu keluarga Haruno."

"Hn.." Ucapnya menautkan alisnya pertanda tak mengerti.

"Mereka adalah sepupu kita, Gaara."

"…."

Terdiam, itulah perasaan yang sekarang dialaminya. Bagaimana tidak? Dia mengatakan hal-hal buruk pada sepupunya itu.

"Ma-maksud kakak, gadis yang kuliah di jurusan seni musik itu adalah sepupu kita! Ta-tapi kak, aku sudah terlanjur mengatakan kalau "Dia sering melakukan bunuh diri." Bagaimana kalau aku bertemu dengan gadis itu?"

"Maaf, kakak juga tahu ini akan terjadi. Tapi tadi kakak tahu ini dari Kaa-san dan Sasori-nii. Bagaimana kalau bertemu dengannya, tolong bawa ke rumah kita! Ini perintah dari Sasori nii." Ucap gadis berkuncir empat itu dengan puppy eyes.

"Wakaata.."

Flasback off ~~

"Tch, sial. Bagaimana aku menceritakan bahwa Sakura sekarang berada di rumah keluarga Uchiha." Batin Gaara yang kemudian terlelap dengan alam mimpinya.


In Uchiha Mansion, at 23.11 p.m

.

.

Di kamar bernuansa biru gelap dengan aksen warna putih silver serta ada goresan-goresan samar bergambarkan awan seakan ruangan itu hidup di atas langit.

Di kasur king size berwarna putih polos, ada seorang gadis berambut pink tertidur pulas dan disampingnya seorang pemuda berambut Dark blue duduk di sofa kesayangan warna hitam senada dengan baju yang dikenakannya sambil memainkan I-pod serta membaca Abnormal Psychology book.

"Sial, bagaimana penelitian ini akan sukses kalau aku tak mengerti gangguan gadis ini? Lagipula tidak ada dalam buku ini" Batin kesal dari pemuda itu membantingkan bukunya tepat di kasur King size-nya.

Nghh, desahan gadis itu terbangun akibat suara dari buku yang dibanting oleh pemuda bermata Onyx itu. " Dimana aku?" Ucapnya.

Diedarkan mata Emerlad-nya mengelingi ruangan asing bagi gadis itu dan kemudian tertuju pada mata Onyx yang tak asing milik seorang pemuda masih menunjukkan wajah kesalnya.

"Dia..lagi."

.

.

TBC


~~Gracia Note's~~

Maaf kali ini alurnya agak membosankan, mungkin karena sibuk kuliah saya bisa memikirkan ide seperti ini.

Chapter kali ini panjang dari dua chapter sebelumnya.

Mohon Review nya, ^^

"Jika fic ini kurang, tolong maafkan saya"

Numb Girl Chapter 2: Part 2 Meet again, a naruto fanfic - FanFiction.Net

Numb Girl Chapter 2: Part 2 Meet again, a naruto fanfic - FanFiction.Net

Maafkan saya , jika banyak kesalahan kata atau segala berhubungan dengan fic ini. Karena saya berusaha untuk membuat fic lebih baik lagi dengan bantuan dari kalian semua :*

.

Walau reviewer hanya sedikit tetapi, saya tetap bersemangat buat fic lagi :*

Arigatou..:D

Life Like Is Wind, Fly On The Sky If You Want **

Gracia De Mouis Lucheta~`

For Anime Naruto Lovers **SasuSaku Lovers**

Disclaimer : Masih punya Masashi sensei **

Rated : T-een

Genre : Angst/Romance/Drama/Hurt-Comfort

Warning : Agak ke-OOC an, Au banyak Typo bertebaran

.

.


"Apa yang kulakukan tadi , Bodoh..bodoh ! " Ucapan kesal dari bibir ranum milik gadis bermata emerald itu. Setelah pembicaraannya dengan laki-laki bermata onyx itu membuatnya tak tentu arah, bagaimana tidak ? Dia biasanya tidak berbicara dengan orang lain, kenapa hanya dengan laki-laki itu yang bisa membuatnya mengucapkan beberapa patah kata.

Flashback~

"Siapa namamu, Cherry ?"

Lidah gadis itu berkelut untuk membuka suara, tetapi dalam hatinya menahan keinginan itu.

"Tahu darimana kau julukanku—adalah Cherry." Gadis itu berkelit mengganti topik

"Kau tak perlu tahu darimana aku mengetahuinya?"

"Terus apa maumu, untuk mengetahui namaku? Manfaatku apa? Uchiha-san."

"Aku hanya ingin berteman denganmu, apa tidak boleh?" Laki-laki itu menautkan alisnya.

"Aneh kau ini! Biasanya laki-laki tidak repot-repot untuk berkenal dengan seorang wanita, tapi-hanya kau yang.." sukses jari dingin milik laki-laki itu menghentikan ocehan gadis itu.

"Aku Uchiha Sasuke, mahasiswa semester 3 jurusan Psikologi."

Gadis itu tanpa sadar menatap mata onyx milik Uchiha Sasuke yang menghipnotisnya dan mengucapkan..

.

.


Lamunan gadis itu buyar akan bunyi bel di kampusnya menggema. Diapun memasuki kelasnya, di sana dia diacuhkan oleh teman-temannya. Miris melihat keadaan psikologisnya, tapi dia menganggap semua itu tak ada gunanya.

"Hei, teman-teman. Hari ini ada mahasiswi baru looh ! Katanya dia berasal dari Amekagure !" Teriak salah satu perempuan berambut merah dengan kacamata mencolok.

"Benarkah, wah bakalan jadi sainganmu. Karin" Ucap temannya.

Seketika gadis yang dibicarakan itu datang masuk ke dalam ruangan kuliahnya, semua takjub melihatnya. Dia memiliki rambut kuning panjang dengan mata aquamarine seperti boneka Barbie yang dikenal boneka cantik di dunia.

"Konichiwa, teman-teman. Perkenalkan aku Ino Yamanaka, mohon bantuannya." Senyum gadis bermata aquamarine itu membuat laki-laki berada di ruangan itu pingsan di lantai.

Mata itu, ya dia adalah- "Sakura, apa kabar ?" suara Ino mengagetkan seisi ruangan itu, bagaimana tidak ?, gadis yang dipanggil itu dikenal dengan sebutan "—Numb Girl" oleh teman-temannya. Tidak menyangka bahwa dia memiliki teman secantik Ino.

" Yamanaka-san, senang bertemu dengan anda." Ucap Sakura datar tanpa emosi sekalipun terlihat dari wajahnya.

Ino Yamanaka kaget mendengar balasan dari temannya, dia tidak menyangka kalau temannya yang selalu ceria bisa berubah 100 persen menjadi murung tanpa emosi.

Dret…Dret..

Getaran telepon genggam milik Ino membuyarkan apa yang dipikirkannya, "Siapa yang mengangguku ?" Keluhnya. Dia melihat layar telepon genggam itu-

Shikamaru Nara

Calling

"Uuh, ternyata dia ?" senyum berbinar keluar dari bibir gadis itu dan menjawab panggilan yang berada di telepon genggamnya.

.

.


In Psychology Class room 124

"Hey, teme. Bagaimana ekspedisi tentang gadis yang bernama Sakura Haruno itu?" Tanya laki-laki berambut jabrik yang bernama Naruto itu kepada sahabatnya bermata onyx itu.

"Hn, menurutmu?" Jawab dengan pertanyaan balik menjurus kepada temannya.

"Sasuke..Naruto, kalian tahu siapa yang ditelepon oleh Shika ?" Potong laki-laki bertato Ai di dahinya itu.

"Mana kutahu, Gaara." Kata Sasuke dengan singkat.

"Oh ya, kutahu dari kakakku di kelas seni musik. Ada kedatangan mahasiswa baru ?" Ucap Gaara.

"Um, kamu tertarik ya ?"

Gaara menaikkan alisnya, "Tentu tidak, aku sudah punya Matsuri tahu ?" Ucapnya kesal terhadap perkataan dari laki-laki berambut jabrik itu.

"Hei..hei, kalian berisik ! Pembicaraan ku dengan Ino jadi terganggu ?" Bentak Shikamaru memotong pembicaraan ketiga sahabatnya itu.

"Maaf ya, nanti kita ketemuan di Akatsuki Café." Tutup Shikamaru mengakhiri pembicaraan dengan gadis yang bernama Ino.

"Ino.., siapa dia ?" Tanya Sasuke kepada laki-laki berambut nanas itu.

"Dia itu tunanganku." Jawab Shikamaru.

Ketiga sahabat itu kaget mendengar ucapan barusan keluar dari laki-laki yang berstatus ketua tingkat dikelasnya.

"Se-serius, kau Shika.." Ucap ragu-ragu laki-laki bernama Naruto.

Dengan ketegasannya, Shikamaru menganggukan kepalanya dan memperlihatkan cincin tunangannya. Bukti mereka adalah tunangan resmi.

"Sejak kapan kau tunangan, Shika ! Kenapa tidak beritahu kami ?" Tanya Sasuke.

"Itu kita bicarakan nanti di Akatsuki Café, ok." Ucap Shikamaru mengacungkan jempolnya kepada ketiga temannya.

"Bukannya tadi dia ada janji dengan tunangannya." Batin Sasuke.

.

.

.


In Musical Room 347 at 13.45 WIB

Suara-suara menggema di alunkan dengan hentakan,petikan, bahkan sampai pukulan alat music terdengar indah. Terutama piano dimainkan oleh gadis bernama Sakura Haruno, jari-jarinya sangatlah terampil menekan tuts-tuts nya hingga menghasilkan suara yang menakjubkan.

Tapi tidak dengan orangnya, dia hanya memasang raut datar seperti biasa. Itu membuat takut teman-temannya untuk mendekatinya, pantas disebut gadis mati rasa.

Gadis bermata aquamarine yang bernama Ino Yamanaka juga tak kalah hebatnya memainkan biola, dengan memejamkan matanya dan menghayati lagunya itu membuat orang yang mendengarnya seakan terbang melayang ke udara.

Lagu Mayonaka Orchesta –Aqua Timez, itulah yang dimainkan oleh kelas bernomor 347. Lagu ini pantas disebut sangatlah sempurna, alunan melodi yang indah menghanyutkan suasana.

"Cukup anak-anak, mata kuliah hari ini selesai. Selamat sore semuanya." Ucap wanita berperawakan tinggi dengan rambut hitam menggelung panjang.

"Baiklah, Eri-sensei." Kata seluruh mahasiswa serempak antusias menjawabnya.

Semuanya pulang hingga tersisa dua mahasiswi berambut Pink dan Kuning yang masih berkutat dengan alat musik dimainkannya. Sunyi menyelimuti suasana kelas itu, tak ada satupun suara menemani mereka.

Hingga gadis bernama Ino Yamanakan membuka suaranya, "Sakura, kenapa kau berubah? Dirimu menjadi seperti ini. Aku datang ke sini karena kangen denganmu! Tapi kenapa kau..hiks..hiks..?" air asin mengalir tetes pertetes di matanya.

"Aku yang dulu itu, Yamanaka-san. Sekarang ya sekarang!" Ucap dingin keluar dari bibir milik gadis bermata emerald tersebut.

"Bisa kau cerita padaku? Aku ini sahabatmu, pasti bisa membantumu." Ucap Ino memelas kepada gadis disampingnya itu.

"Itu tak perlu aku cerita padamu, Yamanaka-san. Permisi—" Kata Sakura melengos pergi tanpa menoleh sedikitpun teman eh sahabatnya yang 4 tahun menemaninya.

"Tunggu-" Ucap Ino menarik paksa tangan Sakura "Maumu apa, Yamanaka-san?" Bentaknya meronta meminta gadis bermata aquamarine melepas tangannya.

Namun hasilnya nihil, gadis bernama Ino Yamanaka itu tak melepas tangan dan menariknya seenaknya kelaur dari kelasnya. "Aku membawamu ke suatu tempat, di sana aku akan memperkenalkan tunanganku dan sahabat-sahabatnya. Jadi sekali ini saja! Turuti aku,Sakura!" Bentak Ino menguasai emosinya yang meletup-letup sedari ditahan saat sahabat karibnya mengacuhkan dirinya.

"Bukannya akan menganggumu acara kencanmu bersama tunanganmu, Yamanaka-san." Cibir Sakura menatap mata aquamarine dengan datarnya.

"Tidak, aku bukan berkencan kok. Tapi reunion bersama teman-temanku, jadi diam dan jangan banyak protes!" Jawab tegas Ino tak kalah tajamnya dengan Sakura mendesisnya.

Kemudian dia menarik paksa Sakura masuk dalam mobil Honda jazz nya warna merah, tak menggubris ocehan-ocehan Sakura melolong tidak ada habisnya "Turunkan aku!", "Aku tidak ada urusan denganmu!" "Cepat TURUNKAN AKU!" ucapnya dengan menekan kata-kata tersebut.

Sampailah di Lily Of the valley Boutique, butik milik keluarganya. Di sana terdapat bermacam-macam desain-desain baju terkenal di dunia. Dengan cat berwarna Gold memperindah butik ini yang terkesan elegan.

"Selamat malam Ino-sama." Ucap salah satu pelayan di butiknya.

"Selamat malam juga, saya minta tolong untuk mendandani sahabat saya ini agar terlihat cantik." Pinta Ino dengan ramah nan lembut khas suaranya.

"Baiklah Ino-sama."

Para pelayan menarik paksa sahabat tuannya itu untuk di dandani bak layaknya putri dari kerajaan terkenal. Gadis bermata emerald itu tak kalahnya berontak menepis paksa tangannya ditahan oleh beberapa orang yang tidak dikenalnya.

"Sakura, tadi kan sudah kubilang! Sekali saja, turuti apa permintaanku kali ini." Kata Ino menginterupsi pemberontakan Sakura, sahabatnya.

Setelah beberapa menit kemudian, dua gadis ini telah berubah menjadi anggun. Bagaimana tidak? Ino Yamanaka memakai dress warna ungu muda dengan aksen bunga Sweat Pea diletakkan pada pinggirannya. Rambutnya dikuncir setengah dan sisanya di blow-up hingga terkesan bergelombang. Juga pada wajahnya diberi make up simpel hanya lipgoss rasa anggur menghiasi bibir manisnya.

Tak kalah dengan Ino, gadis bermata emerald yang sempat ditarik paksa berubah menjadi anak bangsawan. Dia memakai dress warna pink muda dengan pita menjuntai kebawah. Rambutnya yang pendek hanya diberi aksen bando kupu-kupu. Juga make up sama seperti Ino terkesan simpel tapi hanya lipgoss rasa stroberry mempermanis bibir ranumnya.

"Wah kau terlihat cantik, sahabatku. Ayo kita ke Akatsuki Café!" Kata Ino dengan semangatnya seratus persen.

"Hati-hati, Ino-sama."

.

.

.


In Akatsuki Café At 20.36 WIB.

Senandung lagu instrumental mengalun suasana café yang terletak di jalan utama Konohagakure nomor 49, juga pelayanannya yang berkelas membuat pengunjung betah untuk menyinggah di café ini.

Di sana ada empat cowok dan dua cewek bercengkrama menikmati cuaca nan dingin diluar, ada yang mencibir, ada juga yang melerai. Hingga laki-laki bermata onyx hitam berambut panjang dikuncir menganggu acara mereka.

"Selamat malam semuanya-Hei,Sasu-chan! Ada disini." Teriak nan gaje menginterupsi mereka.

"Nii-san, hentikan kekonyolan kata-katamu itu didepan sahabatku!" Geram laki-laki berambut emo menatap tajam laki-laki yang disebut kakaknya itu.

"Itachi-nee, di-di mana Neji-san k-kok tidak ada?" Ucap gelagapan dari gadis yang bernama Matsuri, pacar dari Gaara Akasuna.

Dielusnya rambut Matsuri hingga semburat kecil menghiasai wajahnya, tatapan seakan membunuh keluar dari aura milik Laki-laki berambut merah darah kepada Nii-san Sasuke.

Tring..tring, suara lonceng dari Akatsuki Café pertanda ada tamu yang masuk. Ada dua gadis melangkahkan kakinya kepada-

"Shikamaru-kun, lama tak berjumpa?" Ucap gadis bermata aquamarine itu menghambur pelukan kepada laki-laki berambut nanas yang bernama Shikamaru.

"Hn, iya aku juga. Kau sangat formal sekali menghadiri reunian kecil kita—oh, ya itu siapa?" Tanyanya kepada gadis yang masih dalam pelukannya menunjuk gadis yang berada di belakangnya.

"Helooo, jangan bermesraan di depan umum, Ino-chan!" Suara keras khas Naruto Uzumaki mengusik Shikamaru memeluk tunangannya itu.

"Kau ini, sifatmu tidak sama sekali berubah. Naruto!" Kata Ino menciutkan aura laki-laki berambut kuning jabrik itu.

"Ino-san, itu siapa yang ada dibelakangmu?" Ucap gadis bermata lavender itu. Semua mata kecuali Ino tertuju pada gadis berambut pink, yang ditatapnya itu merasa risih dan merasa Ingin-pergi-dari-sini.

Kembali mata onyx bertemu dengan emerald

"Sakura.."

"Sasuke Uchiha.."

.

,

,

TBC

Maafkan saya, fic ini ancur banget! Bahkan saya bersedia menghapusnya, jika fic ini kelihatan menganggu kalian. Saya bersedia menghapusnya.

Trims**

Gracia De Mouis Lucheta…

'Mohon review dari kalian semua…"

.

Numb Girl Chapter 1: Part 1 Who is she ?, a naruto fanfic - FanFiction.Net

Numb Girl Chapter 1: Part 1 Who is she ?, a naruto fanfic - FanFiction.Net

Minna~~ saya adalah author lama yang kena WB lama hingga harus dilarikan ke rumah sakit FFn *gubrak*. Saya mencoba Fandom baru yang selama ini Bleach kemudian saya beralih ke Naruto *Anime Bleach nggak ditinggalin kok*

For Pencinta anime seperti kalian, mohon bantuaannya dalam membaca cerita yang mungkin allurnya tidak jelas. Saya orangnya nggak berlama basa-basi.~~

Life Like Is Wind, Fly On The Sky If You Want **

Gracia De Mouis Lucheta~`

For Anime Naruto Lovers **SasuSaku Lovers**

Disclaimer : Masih punya Masashi sensei **

Rated : T-een

Genre : Angst/Romance/Drama/Hurt-Comfort

Warning : Agak ke-OOC an, Au banyak Typo bertebaran


Black is my Favorit color

I don't like feel happy..sad..or more.

So, you don't know me.

I'm so numb.

Don't came near to me or touch me if you save your life.

-Cherry Note's-

Ingin kurasakan perasaan yang dialami setiap orang, melihat orang tertawa dengan menyunggingkan senyuman dan deretan gigi khas tertawa mereka. Juga ingin merasakan kesedihan saat ada orang yang meninggalkan kita ataupun menangis karena bahagia-IRONI sungguh kata itu aku tidak dapat merasakan semua itu. Aku…aku..hidup tanpa nyawa.


"Hei,Teme—Tumben melamun? Siapa yang kau perhatikan?" Pertanyaan yang keluar dari laki-laki berambut spike kuning menatap mata onyx khas temannya itu.

"Hn—Apa maumu ?" Sang pemilik onyx itu merasa terganggu atas kehadiran teman sekampusnya itu.

"Selalu begitu, apakah kau nggak sadar setiap hari memperhatikan gadis berambut pink itu ?" Guratan kecil berkedut di pelipis laki-laki bermata sapphire blue.

"Apa urusanmu, Dobe ? Jangan mengangguku !" Bentak kecil dari laki-laki itu. Hendak melayangkan pukulan tangan tepat dimuka temannya itu cepat dibaca oleh laki-laki bermata onyx itu dengan menahannya.

"Kau tahu, Sasuke ! Dia itu tidak bisa merasakan seperti kita." Kata terluncur dari lak-laki itu merenggankan tangannya.

"Maksudmu—"

"Dia itu disebut Gadis penyendiri atau Numb Girl."

Yang benar saja, masa dia sebut gadis penyendiri. Kulihat dia baik-baik saja,eh-tunggu dulu ! kenapa aku terlalu memikirkan gadis itu. Batin Sasuke dalam hati, tanpa menyadarkan teman di sampingnya dia pun berlari mengikuti gadis misterius itu. Ya, gadis misterius yang mengacaukan pikirannya.

"Cotto matte, Sasuke—" Laki-laki bermata sapphire biru tersadar dari alam sadarnya melihat temannya sudah menjauh dari pandangannya. "Maunya apa sih dia ?"


SASUKE POV

Cih, kenapa pula aku harus mengikutinya. Padahal aku seorang Uchiha yang selalu mementingkan harga diri, tapi gadis itu mengacau pikiranku belakangan ini. Dia memiliki rambut yang unik yaitu berwarna pink, kedua bola matanya memiliki warna emerald sungguh cantik.

Argh sudahlah cukup basa-basinya, aku belum memperkenalkan diri. Saya Sasuke Uchiha, mahasiswa jurusan Psikologi semester 3 dan pastinya kau tidak tahu apa maksud dari jurusan yang kupilih. Ok, maksudnya aku ingin menjadi Psikolog yang dapat membantu orang bermasalah berbeda degan kepribadianku yang ego dan dingin cukup dingin maka aku memilih ini untuk merubahnya.

Aku sedang mengejar seorang mahasiswi yang ku jelaskan di atas tadi, yang kutahu dia berada di jurusan Seni tepatnya musik. Jangan kalian berpikir aku mengetahui informasi itu dari orang yang tidak ku kenal, aku tahu dari teman sekaligus sahabatku Naruto Uzumaki.

Sudah cukup perkenalan yang membosankan itu, kalian tahu aku hampir kehilangan jejak gadis itu. Tapi dua langkah tepat di belakangnya.-

"Maumu apa, Uchiha ?" Nada datar tanpa ekspresi dari ucapan gadis itu sarkastik.

END SASUKE POV

Tatapan onyx Sasuke mencoba berhadapan dengan mata emerald milik gadis itu, tapi mata itu terlihat sendu. Berpikir cara dosen psikolog, aku membaca pikirannya.

"Bukankah kau jurusan Psikolog-eh, apa aku salah Uchiha-san ?" ucapnya datar kembali.

"Hn,kau benar. Tahu dari mana anda ? Oh,ya dari raut wajahmu aku tahu..kau mempunyai masalah bukan? " Ucap Sasuke hati-hati terhadap gadis incarannya tersebut dengan tetap stay cool .

"Itu bukan urusanmu, Uchiha-san." Gadis itu melengos pergi dari hadapan Laki-laki bermata onyx itu, tapi tidak bisa karena tangan kekar itu menahannya.

"Aku belum selesai bicara."

"Sudahlah kau—jurusan psikologi dan aku jurusan seni, kita berbeda dan camkan aku tidak sama dengan kalian. Kalau kau mau nyawamu selamat, jauhi aku. Uchiha !" Ancam gadis itu menatap tajam mata onyx milik Uchiha bungsu itu.

"Life Like is Wind, Fly On The Sky If You Want.." Bisik pelan dari Uchiha bungsu itu kemudian melepas tangan yang menahan langkah gadis itu. "Oh ya, sampai bertemu lagi Numb Cherry." Diapun berlalu pergi.

"Sigh, desiran apa ditelingaku..tidak aku tidak mau mendengarnya." Ucap gadis itu melangkah pelan menuju ruangan musik kesukaan, maksudnya di tempat itu ada piano tempat curhat selama ini.

Semua pun berlalu***


At Café Akatsuki 13.50 p.m

Dua kursi kosong dan dua lainnya sudah terisi oleh laki-laki berambut spike kuning dan laki-laki berambut merah tengah menunggu kedua temannya yang belum menunjukkan batang hidungnya.

"Gaara, kau tahu kemana Shikamaru tidak ?" Tanya laki-laki itu kepada orang di sampingnya tersebut.

"Bukankah dia akan datang 3 menit lagi, Naruto ! Aku juga mau tanya kemana Sasuke ?" Ucap Gaara menyeruput strawberry soda di hadapannya.

Pemuda itu seketika menjawab pertanyaan laki-laki yang memiliki Tato "Ai" di dahinya "Ah, dia-" Ucapannya terpotong karena kedua temannya datang tepat waktu.

"Maaf aku terlambat teman-teman." Ucap Sasuke dan Shikamaru bersamaan.

"Wah panjang umur kalian, gimana siapa yang menjadi penelitian kalian untuk tugas nanti?" Cerca Naruto terhadap kedua temannya.

"Kau ini merepotkan, kami belum duduk sudah disajikan pertanyaan semacam itu ?" Shikamaru angkat bicara.

"Ah, gomen-gomen… Oh ya, Teme. Kau meneliti siapa ? Gadis itu kan ?" Pertanyaan menjurus kepada Uchiha bungsu itu.

Pemuda yang dijuluki Teme itu hanya diam dan menatap mata ketiga mata temannya itu. "Sasuke, kau belum tahu detail gadis itu kan ?" Ucap Gaara tak kalah menatap mata milik Uchiha itu.

"Hn-" hanya sepenggal kata itu keluar dari bibir tipis milik Uchiha bungsu tersebut.

Pemuda berambut hitam kuncir ke atas tersebut tak menyukai suasana diam tak bersuara, "Mau tahu tentang gadis yang kalian perbincangkan itu."

Semuanya mengangguk tanda setuju, kemudian pemuda yang bernama Shikamaru itu menceritakan detail gadis itu. Hanya Naruto dan Gaara yang terlebih dulu mengetahui perihal gadis berstatus mahasiswi Jurusan Seni musik, tapi laki-laki yang memiliki mata onyx itu membulat dua detik dan kembali datar seperti biasa.

"Begitulah detailnya, aku tak tahu namanya siapa. Yang jelas, Sasuke-" Potong Shikamaru menatap teman yang ada dihadapannya itu. Yang ditatap hanya menampilkan wajah datar seperti biasa padahal tadi ekspresinya diluar dugaan."—Kau yang harus mencarinya sendiri. Karena kau bilang sendiri untuk menelitinya."

Laki-laki yang bernama Gaara itu memperingatkan sesuatu kepada Pemuda berambut Dark Blue "Yang kutahu dari kakakku, dia sering melakukan percobaan bunuh diri.."

Sasuke mencerna apa yang dikatakan pemuda berambut merah tersebut. "Teme, aku bisa membantu tentang gadis itu? Itu sih kalau kau mau." Ucap Naruto.

"Sudahlah, Dobe. Aku yang akan mencarinya sendiri, lebih baik fokus pada objek penelitianmu—" Ejek Sasuke kepada sahabatnya itu.

"Hei, bukannya gadis yang kau teliti itu bernama-" Lanjut Sasuke terpotong karena sang pemuda jabrik kuning itu menatap evil terhadap onyx miliknya.

"Baiklah, kalian mau pesan apa ? Bukannya dari tadi kalian belum minum?" Tanya Shikamaru menguasai percakapan temannya tersebut dapat menghentikan pertengkaran kecil diantara Uchiha dan Namikaze tersebut.

"Seperti biasa, Shika. Aku pesan jus tomat—" ucap Sasuke.

"Aku pesan Orange Soda.." Ucap Naruto.

"Gaara, kau yang tarktir kami kan? Bukannya giliranmu hari ini.." Seringai Sasuke menjurus ke Laki-laki berambut merah itu.

Gaara hanya mendengus kecil mendapat seringai tajam dari Sasuke, "Terserah kalian saja.."

"Ayey, dapat traktiran dari Gaara.." Teriak kegirangan Naruto. Ketiga teman menoleh mendengar ucapan kerasnya memberi Evil face terhadap pemuda memilki mata sapphire blue itu.

"Hentikan kekonyolanmu, Naruto! Kau sudah menjadi mahasiswa tahu, seharusnya bersikap dewasa sedikit.." Bentak pelan Sasuke.

Naruto hanya bergidik ngeri menatap sekilas wajah Sasuke sudah seperti Harimau-mengincar-mangsa hanya diam dan bersikap dengan cengiran biasa. "Gomen ne.."


~~Pagi at 13 September 2011 in Konoha Town~~

Decitan pintu kamar terdengar keras di telinga gadis itu, "Kau ini! Harusnya sudah berangkat dari tadi, dasar pemalas" terdengar teriakan menggema di seluruh kamarnya.

"…" Gadis itu membisu tak berbicara sepatah kata apapun dan melengos pergi ke kampus tempat ia menimba ilmu. Entahlah dia tidak mendengar ocehan wanita yang selama ini mengurusnya, apa hubungan dia memungutnya samapi dia menanjak kuliah sampai seperti ini.

Gadia berambut pink itu melaju motornya dengan kecepatan tinggi, dia pun tak peduli dengan apapun yang akan menghadangnya. Yang jelas dia hanyalah manusia tidak bisa merasakan apapun seperti yang lain.

Ckiit, gadis berambut pink itu memasuki kampus atau dikenal Konoha et Campus. Satu tujuan gadis itu hanyalah piano berwarna Coklat kusam di ruangan terpencil dekat kampus jurusannya itu.

Jari-jari mungilnya mengalun musik sendu nan indah, piano kusam itu menjadi berwarn seiring dari orang yang memainkannya. Gadis itu memainkan lagu Numb milik Band terkenal Linkin Park, tapi dia hanya memainkan bukan menyanyikannya hingga terdengar suara yang mengusik lagunya tersebut.

i've become so numb
i can't feel you there become so tired
so much more aware
i'm becoming this all i want to do
is be more like me and be less like you

Gertakan kecil dari gadis itu tak tergubris oleh seorang laki-laki berambut dark blue itu menghentikan suaranya menemani alunan indah petikan gadis bermata emerald tersebut.

Gadis itu menghentikan alunan pianonya dan menatap tajam pemuda yang seenaknya masuk ke ruangan yang hanya boleh dimasukkin oleh mahasiswa sejurusan. Sebelum gadis itu berbicara, laki-laki bermata onyx itu angkat bicara. "Aku hanya menemani lagu-mu saja. Kan sayang kalau disia-siakan saja !"

"Maumu apa Uchiha?" Dengus gadis itu.

"Kata-kata itu sering kau ulangi ketika pertama kali kita bertemu, aku boleh tahu siapa namau ?"

"Cih, apa urusannya denganku ?" Gadis itu mengejek pemuda dihadapannya.

"Kalau tak kenal maka tak sayang bukan, aku hanya ingin tahu saja.."

"Kau tidak perlu tahu.."

"Sabar..Sabar,Uchiha. Gadis ini tidak memiliki perasaan sama seperti aku. dia itu Numb Girl" Batin Pemuda itu.

"Eh, kenapa diam ? seharusnya aku balik bertanya apa urusanmu menemuiku. Bukannya merepotkan kalau bertemu denganku.." Ucap sinis dari gadis itu.

"Siapa namamu, Cherry?"

.

.

TBC

Maaf alurnya kecepatan atau nggak

Mohon direview

When Love Hiding Chapter 1, a naruto fanfic - FanFiction.Net

When Love Hiding Chapter 1, a naruto fanfic - FanFiction.Net

Buat lagi…buat lagi, satu fic belum kelar, ini mau publish lagi. *author aneh* . Ini sebernanya "Edited" dari fic yang udah ku publish sebelumnya. Tapi saya ganti dengan fandom Naruto, ini saya mohon maaf jika ide-nya ini sangat..sangat pasaran juga saya adalah author yang tidak memerhatikan EYD dalam cerita. Para pembaca fic ini tolong minta saran ya, kalau ada kesalahannya. Oke langsung cekidot aja !

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T (Bisa berubah sesuai dengan keadaan)

Genre : Romance/Friendship/Drama

Warning : AU, banyak Typo, OOC banget

Pairing : SasukexSakura,NarutoxHinata, ShikamaruxIno, And Other.

Summary : Ada tujuh mitos di Ryousen Gottan School yang membuat siswa penasaran akan kebenarannya. Mitos itu disebut-sebut bisa membuat cinta diantara pasangan akan abadi. Juga terdapat rahasia lainnya yang belum dipecahkan dan masih misterius.

Penasaran !


~*~*~*~*~*~*~*Gracia De Mouis Lucheta*~*~*~*~*~*~*

Sebuah kota kecil di Jepang yang bertatakan modern seperti kota-kota besar. Di sana terdapat sekolah yang terkenal dan dapat dikatakan elit bagi para bangsawan, para murid yang menuntut ilmu di sekolah itu sangatlah cerdas dan pilihan dari sekolahnya mereka sebelumnya.

Di sekolah itu terdapat mitos yang berhembus kencang sehingga para murid yang bersekolah di sana menyakini jika melakukan apa yang dikatakan mitos itu maka akan bahagia selamanya.

Sekolah itu sangatlah luas setara sekolah bertaraf internasional di kalangan Eropa, terdapat perpustakaan terbesar di Jepang dan juga terdapat fasilitas Wi-fi sehingga murid-murid memiliki wawasan pengetahuan yang luas juga bisa ber-chatting sekedar memberi kabar ataupun mencari jodoh (?)

Seorang gadis dari seluruh bahkan ratusan gadis yang bersekolah di sana mempercayai akan adanya mitos di SMA De Geouten Ryousen Gatten. Dia duduk di perpustakaan , tempat favoritnya setelah pelajaran usai ataupun istirahat tidak seperti murid-murid yang lain yang menghabiskan waktu istirahat seperti berkumpul bersama teman yang lain.

Dia memiliki warna rambut yang cukup unik, karena warna pink. Juga memiliki mata Emerlad yang bisa menghipnotis para laki-laki yang langsung berhadapan dengannya. Sudah satu jam dia berkutat dengan buku yang dipegangnya bisa dibilang cukup menarik untuk dibaca.

"Sakura..Sakura." Panggil gadis yang memiliki mata Aquamarine melambai-lambai tangannya ke gadis berambut Pink yang asyik membaca buku di perpustakaannya. Gadis itu masih fokus dengan lembar demi lembar sambil memainkan musik di I-pod kesayangannya.

"Hmm.." Hanya itu yang keluar dari mulut gadis tersebut.

"Hei, Jidat Lebar !" Bentak gadis itu mengebrakan meja tempat Sakura fokus membaca buku kesukaannya.

Buku yang masih berkutat di tangan Sakura pun jatuh ke bawah meja, hingga gadis itu membuka pembicaraan yang sedari tidak ditanggapi olehnya.

"Ino-pig, kau mengangguku saja." Gerutu Sakura.

Gadis berambut pirang panjang dikuncir itu mengerucutkan bibirnya hingga terlihat jelas muka cemberut terbaca oleh Sakura. Dan dia berkacak pinggang dan mengambil buku tepat dibawahnya.

"Dari tadi dipanggil, kok nggak di jawab. Dasar Kutu Buku!" Gadis berparas cantik itu menatap tajam mata Emerlad milik Sakura.

"Salah sendiri datang ke sini.." Ucap datar Gadis yang memiliki rambut panjang warna Pink dengan mata Emerlad yang bisa membius mata lelaki yang memandangnya.

Ino masih tidak puas dengan jawaban dari temannya itu, kemudian membawa buku kesukaan Sakura. "Ino-Pig, kembalikan buku-ku!" Sakura mencoba mengejar untuk mengambil kembali buku yang dibawa oleh gadis berambut pirang tersebut.

Setelah beberapa menit, Sakura langsung melepaskan headset yang masih melekat di telinganya dan memanggil Ino yang sudah menghilang dari pandangannya. "Sial.."

"Ino-Pig, ayo kita kembali ke kelas, sudah jam masuk Ibiki-sensei." Pancing Sakura. Dan Gotcha!, gadis berambut pirang itu menghentikan langkahnya, tanpa di sadari olehnya. Buku yang dipegang oleh Ino sudah hilang dari pandangan mata Aquamarine-nya.

"Cotto Matte, Sakura!" Ino menyusul temannya itu yang sudah jauh di jangkauannya.

Tapi tiba-tiba, Brukk.

Seorang laki-laki menabrak gadis berambut Pink, laki-laki itu dengan wajah Stoic-nya meminta maaf dengan gadis yang ia tabrak tidak sengaja. "Ma-maaf, nona.." Ucapnya.

Gadis berambut Pink langsung menatap mata Onyx milik laki-laki itu, dan timbul semburat kecil di muka gadis tersebut. Laki-laki itu berparas tampan yang memiliki rambut sedikit mencuat dengan warna Dark Blue mengadahkan tangannya kepada gadis itu.

Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu. Seakan ini adalah goresan takdir yang mempertemukan gadis yang ia tabrak hingga ketertarikan itu muncul di permukaan. Kedua manusia yang berbeda gender ini saling menyelami pandangan mereka, Onyx bertemu Emerlad..

"Namamu siapa, nona?" Tanya laki-laki yang memiliki mata Onyx itu memecah suasana diantara mereka gadis itu menjauhkan diri dari hadapan laki-laki itu dan hanya berucap "Aku Sakura Haruno. Eh—bukannya kita sekelas, Tuan Uchiha." Ucap gadis yang bernama Sakura itu berkacak pinggang di depan laki-laki itu.

"Benarkah, Jidat Lebar." Ucap laki-laki itu menekankan kata "Jidat Lebar" sehingga Sakura melempar buku yang berada di tangannya tepat di muka laki-laki yang memiliki rambut Dark Blue tersebut.

"APAA ! Seorang yang bernama Sasuke Uchiha dijuluki Snow Prince bisa-bisanya mengatakan itu untukku, tak seperti sifatmu. Si Rambut Pantat Ayam.." Ucap Sakura yang sukses membuat laki-laki yang bernama Sasuke Uchiha itu geram dengan perkataan Sakura dengan senyuman licik.

"Jidat lebar.." Ucapnya memegang mukanya yang tadinya terkena lemparan dengan tidak elitnya oleh siswi bernama Sakura Haruno.

"Sudahlah, Sasuke." Ucap laki-laki lain yang ikut dalam pembicaraan mereka berdua.

"Shikamaru.." Ucap Sasuke langsung memasang tampang datar di depan temannya, Laki-laki itu bernama Shikamaru Nara dengan rambut nanas juga bisa dibilang memiliki IQ yang jenius.

Dan selang beberapa detik gadis berambut pirang menghampiri temannya yang sedang bertengkar dengan laki-laki berambut Dark Blue tersebut.

"Apa yang kau mau lakukan dengan temanku, Sasuke!" Ucap gadis bermata Aquamarine mendekat ke arah temannya itu yang tiba-tiba seketika di dorong dan dihempaskan ke dinding oleh laki-laki berambut nanas dengan wajah datarnya .

" Shikamaru-kun, aku tidak berbicara denganmu." Ino dengan menatap laki-laki yang berambut nanas itu dengan tampang memelas seolah memohon supaya menjauh dari hadapannya yang telah mengunci tu buhnya.

Laki-laki yang berambut nanas itu hanya menatap datar gadis di depannya dan berucap " Aku mau tanya,kau percaya dengan tujuh mitos di sekolah ini."

Gadis itu berpikir dan mencerna perkataan Shikamaru berklan-Nara."Menurutmu?"

"Dasar gadis aneh, malah berbalik bertanya." Shikamaru dengan seringai liciknya mencoba membius mata Aquamarine milik gadis itu.

Tetapi gadis itu tidak terbius dengan tatapan Shikamaru dan menyentilkan jarinya tepat di muka laki-laki itu.

"Aku bukan gadis yang terbius akan tatapanmu, Shikamaru-kun.." Ucap Ino dengan senyum manisnya.

"Baiklah, Ino. Kalau kau terbius denganku, jangan salahkan aku." Ucap Shikamaru langsung menjauh dari gadis itu.

"Shikamaru, mana Dobe?"Tanya Sasuke dengan bahasa isyarat yang biasanya mereka pakai.

"Kenapa kau bertanya padaku, Sasuke. Bukannya—"Ucap Shikamaru terpotong akan suara yang tak asing bagi mereka.

"TEME…SHIKAMARU, ternyata kalian ada di sini!" Ucapnya dengan cengiran khasnya. "—Wah, ada Sakura chan dan Ino chan.." Lanjut laki-laki berambut kuning jabrik itu.

"Naruto.." Ucap kedua gadis itu bersamaan.

"Dobe, sudah kau selesaikan tugasmu." Seringai maut khas Sasuke Uchiha terhadap laki-laki itu.

"Belum.."

"Baka-Dobe.." Geram Sasuke.

Kedua gadis yang merasa dicuekin oleh ketiga teman sekelasnya itu mengernyitkan wajahnya, "Kalau asyik dengan urusan kalian. Kami permisi.." Ucap Sakura.

Baru dua langkah kaki gadis berambut Pink itu terhenti akan tangannya tengah di genggam erat oleh Pemuda berambut Dark Blue itu.

"Apa maumu, Sasuke-kun?"

Pemuda itu bingung kenapa dia memegang tangan gadis berambut Pink, seolah tangannya menarik untuk memegang tangan halus gadis itu.

"Sasuke-kun.."

"Ah—eh, maaf. Ayo dobe..Shikamaru." Ucapnya melepas tangan gadis bermata Emerlad itu dengan perasaan bingung diantara beberapa pasang yang melihatnya.

Setelah ketiga laki-laki itu menjauh, Sakura dan Ino merasa aneh dengan mereka yang mungkin tahu akan mitos di sekolahnya ini. Mereka berduapun mengikuti gerak gerik Sasuke,Naruto dan Shikamaru dengan diam-diam.

.

.


In Headmaster room, at 10.35 a.m

.

.

Ketiga cowok itu langsung terfokus dengan pekerjaannya yang terbengkalai selama mereka masuk ke kelas mereka. Pekerjaan menjadi kepala sekolah bukan kemauan seorang Sasuke Uchiha, karena dia senang dengan kebebasan yang tidak mau terikat apapun akan tetapi ayahnya seorang pemegang saham di sekolah itu dan memiliki wewenang luas maka dia menunjuk anaknya menjadi kepala sekolah walau dia masih berstatus siswa di SMA Ryousen Gatten.

Begitu juga Shikamaru Nara, ayahnya sangatlah sibuk dengan perusahannya dan jabatan wakil kepala sekolah jatuh ke tangannya karena ayahnya seorang direktur di salah satu perusahaan milik Nara Corps. Sifatnya yang lebih suka tidur daripada berkutat dengan dokumen di atas mejanya, dia mengeluh keras akan pekerjaannya ini.

Juga dengan pemuda berambut kuning jabrik menjabat sebagai Ketua senat bagian mengurusi kesiswaan padahal dia sendiri adalah seorang siswa. "Tou-san, aku lelah.." Gerutunya mengecek data-data siswa yang berada di mejanya. dia adalah putra tunggal dari Namikaze Minato yang seorang pemilik yayasan di SMA Ryousen Gatten.

"Jangan menggerutu, Dobe. Dan kenapa juga bukan aniki saja yang menjabat kepala sekolah?" Ucap Sasuke.

"Gara-gara jabatan ini, kita ketinggalan dengan pelajaran." Ucap Naruto.

Pemuda berambut nanas itu juga mengeluh akan jabatan ini, tapi daripada mengecewakan orang tuanya. "Sudahlah Sasuke..Naruto, mengeluh pun tidak ada gunanya. Memang ini sangatlah merepotkan, apa boleh buat! Dan bukannya juga Itachi-Nii juga menjabat sebagai Presiden Mahasiswa di kampusnya, Sasuke?"

"Hn.." Hanya itu yang keluar dari Sasuke Uchiha.

"Shikamaru, apakah kita harus menyembunyikan status ini dengan teman-teman kita?" Tanya Naruto tengah duduk di kursi ketua senat itu menatap kedua temannya itu sembari mengerjakan tugasnya.

Baik Sasuke dan Shikamaru,keduanya pun sibuk menandatangani dokumen yang belum sempat terselesaikan, map demi map mereka menggoreskan penanya itu di lembar surat-surat penting dengan tanda tangannya.

"Ya, itu harus. Siapapun tidak boleh mengetahui ini."Ucap Shikamaru.

"Siapa yang tidak tahu, Sasuke..Naruto dan Shikamaru?" Ucap dua gadis membuka ruangan kepala sekolah, ketiga pasang mata menatap langsung kedua gadis itu.

Ketiga pemuda itu menghentikan pekerjaannya, baik Sasuke dan Shikamaru langsung mendekat ke hadapan kedua gadis itu.

"Kenapa kalian mengikuti kami?" Ucap Shikamaru menatap tajam ke arah mata Aquamarine milik Ino.

"Tentu kami ingin tahu saja. Juga apakah kalian tahu tentang tujuh mitos di sekolah ini?" Desis Ino tak kalah tajam menatap mata Onyx milik Shikamaru Nara itu.

"Mengapa bertanya dengan kami?" Tanya Sasuke.

"Karena Shikamaru-kun bertanya hal itu denganku, dan mungkin kalian tahu dengan tujuh mitos itu." Ucap Ino.

"Walaupun Shikamaru berkata hal itu, tapi tidak menunjukan kalau dia tahu mitos yang kalian bicarakan itu ?" Tantang Sasuke menatap intens kedua pasang mata milik gadis itu.

"Setidaknya kalian tidak mau kan status yang kalian sembunyikan itu tidak kami beberkan." Seringai Sakura.

"Hentikan adu mulut ini, Teme." Ucap Naruto ikut dalam pembicaraan diantara mereka.

"Aku mengerti, Dobe."

Sasuke menghela napas panjang kemudian memberi isyarat kepada Shikamaru untuk melakukan sesuatu agar mulut dua gadis yang menganggu mereka tidak membeberkan rahasia ini.

"Diantara gadis-gadis yang kami temui, hanya kalian yang berani menantang kami.." Ucap Shikamaru.

"Baguslah, kalau begitu apakah kalian mau menceritakannya?" Tanya Sakura melipat tangannya sambil menyenderkan badannya ke dinding.

"Kalian tunggu jam 4 sore nanti, nanti kami akan ceritakan.." Ucap Sasuke dengan suara khasnya.

"Baiklah, nanti kami tunggu digerbang sekolah—"

"Kami akan menjemput kalian, juga bawa Hinata-chan." Potong Naruto memotong ucapan Sakura.

Sakura dan Ino pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Kepala sekolah dan menuju ke kelas mereka. Sebelum mereka menjauh, Shikamaru menyusul keddua gadis itu dan membicarakan sesuatu.

"Ibiki sensei tidak masuk.." Ucap pelan Shikamaru.

Dua gadis itu terhenti langkahnya saat mendengar ucapan pelan Shikamaru dan berhadapan dengan ;aki-laki berambut nanas tersebut.

"Jadi, maksudmu?" Tanya Ino.

"Sekedar memberitahu kalian saja, Jane~~" Shikamaru pun meninggalkan mereka berdua dan kembali memasuki ruangan kepala sekolah.

"Aneeh.." Gumam Sakura.

.

.


In XI.1 Science Class, at 10.40 a.m

.

.

Tepat di kelas mereka menuntut ilmu tepatnya kelas XI.1 dengan berisikan murid-murid yang cerdas, berintelektual tinggi tentu dengan kehidupan yang mewah tentunya.

Dua gadis itu masuk ke kelas dan merebahkan tubuh mereka ke kursi, Ino duduk paling depan begitu juga dengan Sakura Haruno duduk di sampingnya. Mereka menghela napas panjang sambil bertanya-tanya dalam hati "Mengapa kami harus terlibat dengan mereka" gerutunya.

Kegelisahan terlihat dimuka Ino dan Sakura membuat teman akrab mereka menghampiri mereka.

"Saku-ra chan..Ino chan.."Panggil gadis bermata Indigo itu tepat di depan mereka.

Mereka yang masih fokus dengan lamunannya, tak menghiraukan panggilan temannya yang berambut biru panjang sehingga teman yang lain mengerubungi Sakura dan Ino.

Panas menyelimuti dua gadis yang sudah terikat perjanjian dengan ketiga cowok yang sekelas dengannya tanpa diduga mereka adalah pemimpin di sekolah ini merasa kegerahan dan terkejut melihat bangkunya sudah dipenuhi oleh teman akrabnya sudah memasang tampang membingungkan.

"Eh—kenapa dengan raut muka kalian?" Tanya Sakura.

"Seharusnya kami yang tanya, Sakura." Suara gadis berambut warna merah mencolok sangat pelan hingga Sakura tidak mendengarnya.

"An-ano..Karin, apa yang tadi kau bilang ?" Gadis bermata Emerlad itu menggaruk kepalanya seolah nggak ada dipikirkannya.

"Uh, dasar. Kenapa juga kalian melamun? Kalian memikirkan apa,coba?" Tanya gadis yang berada disamping Karin dengan memperbesarkan volumenya di telinga Sakura Haruno

"Nggak ada kok, Tenten." Jawab Ino berbohong.

"Oh, ya. Ngomong-ngomong Ibiki sensei kok nggak masuk!"Gumam Karin.

"Padahal aku sudah ngerjain tugas bersama Neji-kun…" Keluh Tenten menatap lembut Neji yang sedari tadi tak ikut dalam pembicaraan mereka.

Neji yang merasa namanya disebut menoleh sebentar, " Tenten…." Ucapnya. Tenten kegelagapan melihat aura membunuh dari laki-laki berambut cokelat panjang yang menghentikan kesibukannya bersama I-Phone miliknya.

"Neji-nii, bukannya kemarin kalian bilang berkencan?" Ucap polos gadis berambut Indigo.

Semua pasang mata menjurus ke arah Neji dan Tenten

"Kalian berkencan sambil mengerjakan tugasnya. Mesranya~~" Ucap Tayuya.

"Karin..Tayuya, Kalian kan anggota osis. Kenapa tidak hadir pertemuan tadi?" Neji melipatkan tangannya seolah-olah melupakan pertanyaan tadi dan menanyakan alasan mereka kabur dari pertemuan OSIS tahunan.

"Memangnya Kepala sekolah hadir dalam pertemuan itu?" Tanya laki-laki berambut silver yang mengejutkan Sakura dan Ino.

Neji hanya menggeleng-ggeleng kepalanya menandakan Kepala sekolah tidak hadir dalam pertemuan OSIS tahunan.

"Aku juga aneh dengan Sasuke..Naruto dan Shikamaru yang kadang-kadang tak hadir dalam kelas. Oh, ya. Hinata-chan kan naksir dengan pemuda berambut jabrik itu. Apakah kau tahu dia ada di mana?" Ucap Suigetsu.

Muka Hinata langsung berblushing merah akan mendengar ucapan Suigetsu dan tidak ada jawaban dari gadis itu. Lainnya dengan Neji, dia mengernyitkan dahinya dan cepat-cepat mengetik pesan singkat kepada seseorang.

"Pesan untuk siapa, Neji-kun?" tanya gadis berambut cepol itu.

"Tidak ada, Tenten."

"Uh.." Tenten mengerucutkan bibirnya.

Melihat teman-temannya lengah dengan sibuk dengan urusan masing-masing, kedua gadis berambut Pink dan Pirang melengos pergi dari kelasnya.

"Cotto matte, Ino."

"Tunggu Sakura-chan.."

Ucapan teman mereka tidak dihiraukannya yang memilih mencari udara segar untuk melepaskan pikiran yang menggelutinya.

.

.


In School Ryousen Gatten Garden at 11.30 a.m

.

.

Sasuke dan Shikamaru berlari mencari tempat yang aman dari kejaran fans fanatik mereka. "Sampai kapan kita di kejar terus oleh mereka." Keluh Shikamaru.

"Mana dobe? Kenapa tidak bersama kita, Shikamaru?"Tanya Sasuke tak kalah lelahnya dengan keringat membasahi seragamnya.

"Entahlah, mungkin berkencan dengan Hinata.." Ucap Shikamaru menunjukkan Blackberry-nya.

From : Naruto Uzumaki

Selamat berkejar-kejaran dengan fans kalian~~

Aku berkencan dengan Hinata-chan dulu.

"Cih, dasar baka dobe!" Dengus Uchiha bungsu itu.

"Kalian..lagi.."Ucap kesal Sakura dan Ino bersamaan membuat terkejut dua cowok sibuk karena adanya fans fanatik mereka yang selalu mengejarnya.

"Kenapa kalian ada di sini?"Tanya Shikamaru berdecak kesal.

"Siapa juga yang menarik kami ke sini?" Ino menunjukkan tangannya memerah akibat cengkraman Shikamaru. Dan mereka ingat kejadian beberapa menit yang lalu.


Flashback

.

.

"Akhirnya selesai juga pekerjaan kita.."

"Hn.."

Tanpa disadari,Sang pemuda berambut jabrik itu melengos pergi dari kedua rekannya. Baru beberapa lagkah menuju kelasnya..

"KYAA..SASUKE-KUN."

"KERENNN…."

"ADA SHIKAMARU-KUN JUGA !"

Kedua pemuda itu kaget, dan langsung mengambil langkah kaki seribu dari jeritan dan kejaran fansnya. "Oh my god.."

Lain dengan kedua gadis berambut pink dan pirang itu menuju ke taman sekolah, dengan langkah santainya tanpa mereka sadari. Tangan kedua gadis itu tiba-tiba telah ditarik oleh kedua pemuda berambut Dark Blue dan nanas tersebut.

"Aww, siapa yang menarikku—hei, Sasuke-kun. Lepaskan tanganmu!" Ucap Sakura.

"….."

"Shikamaru, lepaskan tanganku!" Ucap Ino meringis kesakitan.

"….."

.

.

Flashback Off~~


Mengingat kejadian tadi, semuanya terdiam membisu. Hingga pemuda berambut nanas itu mengulurkan tangannya kepada gadis berambut pirang itu.

"Maaf.." Suara Shikamaru datar.

"Kau juga tidak mau minta maaf, tuan kepala sekolah!" Ucap Sakura menjurus ke laki-laki mata Onyx dengan tatapan tajam.

"Hn.."

"Apa arti kata "Hn" itu, Sasuke-kun?" Tanya gadis berambut Pink itu.

Tiba-tiba, laki-laki berumur 34 tahun mengikuti mereka. Sadar akan yang datang, "Keluarlah, pengecut."

"Hai, Kepala Sekolah.." Ucap dingin dari laki berambut silver itu menyeringai dengan senyum khasnya.

"Kau lagi..kau lagi"

" Salam kenal Tuan Sasuke Uchiha dan Shikamaru Nara. Dan kemana putra dari Namikaze Minato?"

"Apa urusanmu?"

"Ternyata bersama dengan kedua gadis ya, apakah kalian sedang berkencan?"

"Cih.."

"Aku punya sesuatu untuk kalian.."

.

.

.

.

.


TBC

Gomen kalau fic nya ancur banget nih, Gracia betul-betul maaf ya !

R

E

V

I

E

W

When Love Hiding Chapter 2, a naruto fanfic - FanFiction.Net

When Love Hiding Chapter 2, a naruto fanfic - FanFiction.Net

"Apa maksudnya ini? Kenapa harus pesta dansa, lagipula harus diadakan sekarang? Konyol sekali…"

"Sasuke, bukankah auditorium bisa di pakai untuk pesta ini? Sesuai dengan mitos kan?"

"Eh—mitos, kenapa tidak terpikirkan olehku? Baiklah aku setuju. Shika, panggil si Hyuuga ke sini!"

"Hei, aku bukan budakmu! Suruh saja Naruto, dia bebas tugas sekarang…"

"Dobe, hubungi dia. Suruh dia kemari, aku ada perlu dia sekarang…"


Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T (Bisa berubah sesuai dengan keadaan)

Genre : Romance/Friendship/Drama

Warning : AU, banyak Typo, OOC banget

Pairing : SasukexSakura,NarutoxHinata, ShikamaruxIno, And Other.

Summary : Ada tujuh mitos di Ryousen Gotten School yang membuat siswa penasaran akan kebenarannya. Mitos itu disebut-sebut bisa membuat cinta diantara pasangan akan abadi. Juga terdapat rahasia lainnya yang belum dipecahkan dan masih misterius.

Penasaran !


~*~*~*~*~*~*~*Gracia De Mouis Lucheta*~*~*~*~*~*~*

-Chapter 2-


In Headmaster Room, 13 Desember 2011 at 14.33 p.m

.

.

Pemuda berambut cokelat panjang menyilangkan kedua tangannya sambil menatap Onyx nya bungsu Uchiha. Tak habis pikir, dia sebagai ketua osis harus menuruti perintah teman sekelasnya bahkan seumuran. Memang sekarang dia—Sasuke di sini sebagai kepala sekolah. Ya bagaimana pun harus menuruti apapun darinya.

"Apa urusanmu memanggilku? Apakah terjadi sesuatu atau—"

"Bisakah kau diam dan dengarkan aku, Neji. Aku di sini kepala sekolah, jangan segan-segan memotong pembicaraanku." Desis Sasuke menatap tajam mata lavender milik Neji.

"Ok..Ok, sekarang apa yang bisa ku bantu. Sasuke?" Sedikit menekan kata "Sasuke", Neji memutar bola matanya.

"Diskusikan bersama anggota osis mengenai pesta dansa topeng, ini acara tahunan di sekolah. Jadi jika keputusan itu sudah ada, segera temui aku…"

"Sebagai kepala sekolah di sini, tanggal berapa yang pantas untuk acara ini?" Tanya Neji dengan nada dingin, menarik kertas yang di sodorkan oleh Sasuke ke tangannya.

Menghela napas agak panjang, Sasuke pun menjawab "Tanggal 17, kalau begitu segeralah keluar dari ruanganku sebelum –"

Krieett…

"Sasuke-kun, aku butuh bantuanmu." Ucap gadis berambut Sugarplum memasuki ruangan kepala sekolah.

Ucapan dari bungsu Uchiha terpotong dengan tidak elitnya karena seorang gadis memasuki ruangan pribadinya yang hanya diketahui beberapa orang saja. Neji yang berdiri di sana menatap sekilas raut muka Sakura tengah terengah-engah tampak dari napas yang berdenyut di dadanya. Tampaknya ada yang butuh bantuan.

"Apa yang mau kau lakukan di sini, Jidat lebar? Bisa-bisanya kau masuk seenaknya tanpa izin…" Geram Sasuke.

"Memang tidak boleh ya atau kau menyembunyikan sesuatu?" Cibir Sakura.

Urat-urat kekesalan Sasuke berkedut, dia pun langsung bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Neji yang mematung berdiri tegak di sana dan menghampirinya. "Bantuan apa? Jangan-jangan mitos itu lagi—"

"Eh, maaf. Sasuke, kau menghalangi jalanku…" Ucap Neji terdengar agak mengusik pembicaraan diantara mereka.

"Hn…", Neji pun berlalu meninggalkan ruangan tersebut meninggalkan kedua insan di sana.

Sasuke pun mengalihkan pandangannya semula tepat di depan gadis yang telah menganggu pekerjaannya. Kalau bukan siapa lagi, itu adalah Sakura.

"Bukan mitos, Sasuke-kun. Tapi aku butuh bantuan cara mengartikan teks ini! Ini bahasa prancis, kau tahu kan kalau aku tidak suka dengan bahasa ini…" Ucap Sakura menggembungkan pipinya.

"Memang jidat lebar—ayo, ke perpustakaan. Aku akan bantu.." Dengus Sasuke langsung menggiring Sakura keluar dari ruangannya dengan menarik tangannya. Gambaran wajah Sasuke masih memerah bukan malu tapi kekesalan yang beruntun. Pertama—Shikamaru, Kedua—Neji, dan sekarang bertambah satu lagi yaitu Sakura. Poor Sasuke !

"Terima kasih Sasuke kun…", Sasuke melihat wajah imut Sakura dengan senyuman yang manis. otak Sasuke terasa panas merespon apa yang secara tidak sengaja dia lihat. "NOO, Whats the Hell, jangan terpesona oleh Jidat Lebar…" , dengan menggeleng-ggeleng kepalanya.

"Sasuke-kun, kenapa bengong?" Ucap polos Sakura.

Tanpa menjawab ocehan dari mulutnya, "Hn…", Sasuke mengeluarkan kata andalannya. Dia menarik paksa tangan Sakura ke perpustakaan yang tak jauh dari ruangannya. Beruntung tidak ada yang melihat kekonyolannya, Yang ditarik malahan memerah wajahnya.


In Library, at 14.46 p.m

.

.

"Dasar jidat lebar, bukan itu kamusnya." Ucap Sasuke menyerahkan kamus tepat di kepala Sakura.

"Aicch, Sasuke-kun. Kalau mau bantu harus ikhlas dong?" Dengus Sakura langsung menarik kamus dari tangan Sasuke dan langsung membuka kamus tebal itu.

Sasuke hanya menatap urat kekesalan Sakura muncul di dahi lebarnya, dia tersenyum tipis. Dan beruntungnya, Sakura tidak melihatnya. Bisa-bisa reputasinya sebagai pangeran cool di sekolahnya bisa turun.

"Ck, selesai. Makasih ya, Sasuke kun." , Sakura langsung menghambur pelukannya ke pemuda di sampingnya.

Masih belum merespon apa yang dilakukan oleh Sakura, tumben loading pemuda jenius Uchiha agak lambat. Sedetik kemudian, secara refleks melepas kedua tangan Sakura dari tubuhnya.

"Jidat lebar, sekali lagi jangan menyentuhku. Ini tempat umum, bodoh!" Bentak Sasuke.

"Umm, maaf Sasuke-kun.", Sakura menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa malu karena memeluk Sasuke. Itupun tidak ada perintah dari otaknya, hanya gerakan refleks tentunya.

Tapi bagi, Sasuke. Selain keluarganya, sahabatnya bahkan. Tidak berani memeluknya, akan tetapi sekarang—ingat sekarang. Seorang gadis berambut Sugarplum memecahkan rekor.

Keheningan melanda kedua gender berbeda ini, kemudian sang pemuda jenius itu memasukan tangannya ke saku celananya dan mendekati Sakura,"Ingat tanggal 17 Desember, di adakan pesta dansa topeng yang di selenggarakan di auditorium." Ucap pelan Sasuke berhembus kencang di telinga Sakura.

Timbul semburat merah dipipi Sakura, dia pun merespon apa yang di katakan Sasuke sedetik yang lalu. "Sesuai dengan mitos—eh, sekali lagi makasih atas bantuannya." Sakura segera memotong ucapannya dan berlari ke luar ruangan itu.

"Sial, kenapa aku langsung memberi tahunya!", Sasuke menepuk dahinya kesal akan ucapannya tadi.

.

.

.


In Osis room, at 14 56 p.m

.

.

Semuanya tak berkutik atas apa yang di sampaikan oleh Neji sekaligus ketua Osis, mereka yang mendengar langsung mengangguk jelas tanpa tersirat sedikitpun keraguan atas keputusannya.

" Tiga hari lagi kita gladi resik auditorium, oh ya. Suigetsu—"

"Hm, apa?" Sahut Suigetsu.

"Kau bersama Karin, buat pengumuman tentang acara ini di madding sekolah. Dan kau, Shino. Besok segeralah atur ruangan itu, dua hari lagi saya akan mengecek sekaligus wakil dari titah Kepala sekolah. Perintah Neji.

"Kenapa tidak langsung dari kepala sekolah, Neji?" Tanya Lee.

"Dia sibuk, mungkin dia akan mengawasi dan melihat tanpa pemberitahuan. Baiklah, sekarang bubar.."

Semuanya pun bubar, kecuali Hinata yang masih duduk mengetik anggaran dari acara yang di adakan oleh sekolahnya. "Neji-nii, sampai kapan kita harus menyembunyikan status mereka?"Tanyanya.

"Entahlah, ini kesepakatan diantara keluarga kita dengan keluarga mereka. Yang jelas jabatan yang mereka emban itu adalah keputusan dari Madara Uchiha, kepala sekolah sebelumnya. Tapi banyak yang tidak menyetujui keputusan itu, mungkin suatu saat ada yang akan mencelakai mereka. Aku harap hal itu tidak terjadi." Ucap Neji dengan panjang lebarnya.

"Aku harap juga iya, Neji-nii…"

"Hinata, kau sudah mengirim undangan ke Suna Douten School." Tanya Neji agak pelan seolah tidak mengurangi konsentrasi pekerjaan dari adik sepupunya.

Hinata langsung menyahut pertanyaan dari kakak sepupunya dengan menghentikan sejenak pekerjaannya, "Untuk Sabaku No Gaara, bukan? Kalau dia, saya sudah mengirimnya dua puluh menit yang lalu. Undangan lain sudah kusebarkan. Kakak tenang saja, semua itu beres kok." Senyuman gadis bermata lavender mengulas dari bibirnya.

"Ini sudah sore, Hinata. Ayo pulang…" Ajak Neji.

Hinata menggelengkan kepalanya, "Aku akan di antar oleh Naruto-kun, sebaiknya kakak pulang duluan saja. Kasihan Tenten sudah menunggu."

"Beritahu kakak, kalau si pemuda jabrik itu mencelakaimu. Hinata…" alih-alih Neji khawatir akan hubungan adik sepupunya dengan Naruto.

"Baiklah…" Jawab Hinata, "Jangan sampai Neji-nii menonjok Naruto-kun, aku harap itu tidak terjadi." Bisiknya dalam hati.

.

.

.


.

.

.

Satu..dua…empat gelas air mineral dingin lenyap dari tempatnya, rasa haus membuat pemuda itu dengan sangat terpaksa menghabiskan porsi air mineral yang tersedia di mejanya. Rambut jabriknya sengaja di arahkan ke AC hingga kesejukan mendinginkan pikirannya. Wajahnya langsung ia baringkan di meja kerjanya dan mata lama-kelamaan menutup.

"—DOBE, BISAKAH KAU FOKUS DENGAN PEKERJAANMU!" Teriak tidak khas Uchiha bungsu bahkan sangat OOC.

"Aku lelah, Sasuke. Bisakah kita lanjutkan besok? Otakku tak mampu lagi berpikir. Ayolah, ini sudah melebihi jam kerja. Aku ingin istirahat.." Ucap Naruto memandang remang-remang jam yang terpekur di dinding ruangan itu. Kemudian—

Dia membelakakan kaget, janji akan mengantar Hinata. Hampir lupa, dengan beruntungnya kali ini pahlawannya adalah Sasuke.

Naruto langsung membereskan dengan cepat dokumennya, memasukkan beberapa dokumen ke dalam tasnya kemudian memakai jas sekolahnya. "Gomen, aku duluan—Oh,ya. Makasih Sasuke, aku hampir lupa dengan janjiku dengan Hinata. Bye." Dia pun berlalu meninggalkan kedua sahabatnya yang terbengong-bengong.

"Merepotkan…, Kita juga harus bergegas, ini memang sudah melebihi jam kerja. Otakmu juga harus diberi energi dan istirahat, Sasuke. Maka beberapa dokumen ini, kita bawa pulang saja, dan diskusikan besok kalau mungkin itu perlu." Shikamaru juga melakukan hal yang sama dengan Naruto, tetapi jasnya sengaja tidak dipakai dan dibaringkan ke pundaknya. "—Bukan kau saja yang kerja di sini, aku sebagai wakil dari-mu juga dan jangan terlalu memaksakan dirimu, kita hanya manusia biasa. Ayo—aku tunggu di luar." Lanjutnya.

Betul juga ucapan Shikamaru, dia hanya manusia biasa yang membutuhkan istirahat cukup serta asupan gizi untuk mengisi otaknya. Dia pun hanya mengambil dua dokumen…telepon genggamnya dan jasnya, kemudian dia menyusul sahabatnya yang telah menunggu lima menit yang lalu.

"—Hei, Sasuke. Janji kita dengan kedua gadis itu batal akhirnya…" Shikamaru menghela napas dengan mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu membuyarkan semuanya untuk menepati janji yang dibuat oleh mereka.

-Karena Kabuto Yakushi datang menginterupsi mereka, dan menunda—eh, bukan bahkan membatalkan perjanjian konyol yang dibuat bersama gadis berambut pirang –Ino- dan berambut Sugarplum –Sakura-. Hanya gara-gara perintah dari titah ayahnya Naruto Uzumaki untuk mengadakan pesta dansa topeng setiap tahunnya, mereka harus membolak-balikan rencana pertemuan mereka dengan kedua gadis itu dengan pacarnya Naruto tentunya harus batal. Well, tidak buruk juga…

"Hn, aku tahu. Dengan beruntungnya,Shika. Aku tadi harus meladeni urusan Sakura, bahkan tidak penting. Bukannya itu menguras energi-ku…" Dengus Sasuke.

Shikamaru agak kaget dengan ucapan sahabatnya kali ini, tanpa tak berfikir sekalipun. Dia tahu Sasuke tidak akan meladeni apapun yang tidak ada manfaat tentu bagi dirinya. Tapi untuk gadis itu berbeda, ya—berbeda. Karena secara tidak langsung Sakura mengancam dengan akan membeberkan status Sasuke kepada semua orang kalau dia tidak menuruti apa yang dibutuhkan. Dan lebih kaget lagi, sahabatnya ini setuju. Benar-benar roda kehidupan telah bermain-main dengan mereka.

.

.

.


In Sunakagure, 14 Desember 2011 at 10.11 a.m

.

.

Cuaca terik menyinari kota Sunakagure, banyak orang menghabiskan waktu mereka dengan beristirahat ria tanpa melakukan hal yang bermanfaat untuk memajukan perekonomian kota itu. Tak hal menampik juga dengan pemuda berambut merah dengan tato Ai di dahinya mengerutkan alisnya membaca surat elektronik di I-pad-nya terlihat sebuah undangan pesta, dia pun meletakkan benda itu di mejanya dan memandang suasana siang menerik panas mengambil seluruh energi berupa air keringat dari tubuhnya.

Gaara—tepatnya Sabaku No Gaara membaca sekali lagi surat elektronik yang ia terima kemarin, menggumam tak jelas. Bagaimana tidak? Di surat itu tertulis

Undangan Pesta Dansa Topeng

Tanggal : 17 Desember 2011, 19.15 p.m

Tempat : Auditorium hall Ryousen Gatten School

Syarat untuk pesta ini : Harus memakai topeng, tak terkecuali.

Signature

Headmaster Ryousen Gatten School

Dasar, acara yang mereka selenggarakan agak terburu-buru. Ini sudah menunjukkan tanggal 14 Desember, so. Seharusnya sebuah acara tahunan seperti ini harus di rencanakan seminggu yang lalu, tetapi ini lain, dari surat yang ia bacanya itu terlihat baru dibuat. Dia berharap pesta ini tidak akan kacau seperti tiga tahun yang lalu.

Well, dia menyeruput cokelat dinginnya. Dan kembali memeriksa surat elektronik lainnya yang mungkin terlewati dari mata Jade-nya.

"Gaara, jam pelajaran Astronomi sudah di mulai. Bisa kau kembali ke kelas-mu, biar aku yang mengurus pekerjaanmu itu." Ucap laki-laki menghampiri meja ketua osis –Sabaku No Gaara-

"Aku tahu, Kankuro-san. Jika ada pemberitahuan lain, segera hubungi aku." , Gaara pun menegakkan tubuhnya dan mengambil buku cetak Astronomi dengan pena diletakkan dalam saku kemeja sekolahnya. Kemudian dia berlalu pergi ke kelas yang ia tuju.

"Dasar keras kepala, adikku…" Gumam Kankuro menatap pigura yang bersandar manis di meja milik Gaara, terlihat dia, Gaara, Sasori—kakak tertua dari mereka berempat dan gadis berkuncir empat –Temari. Dia pun memikirkan kakak tertuanya sedang ada di kota Konohagakure, mungkin sang kakak menjalani kehidupan dengan nyaman.

Berharap dia bertemu lagi dengan kakaknya, rasa rindu menjalar dari Kankuro. Walau sekarang dia di sini tertua, tetapi yang paling bisa menghibur mereka adalah kakaknya, Akasuna no Sasori.

.

.

Akankah keinginannya terkabul, hukum ketertarikan muncul sebagai wasit dalam pikirannya.

.

.

.


.

.

.

"Itachi, rapat senat sudah akan dimulai." Ucap agak terkesan ajakan dari pemuda berwajah Baby face kepada temannya tengah menatap arah angin di jendela kampusnya.

Sorot mata Onyx tertoleh dan menatap wajah dari yang memanggilnya, "Sasori, bisakah kau tidak mengangguku ketika aku menikmati suasana…" Itachi tengah berhadapan langsung dengan Sasori tanpa beranjak dari kursinya.

"Ayolah, Itachi. Ini bukan main-main, atau kau akan di omelin Konan akan keterlambatanmu di rapat senat." Ancam Sasori dengan seringainya.

Degg…

Sudah di duga oleh Sasori, kalau dengan mengucapkan nama Konan. Maka pemuda berambut hitam berkuncir ini terdiam. Dia hanya menahan rasa tawanya dengan menelan ludahnya, kalian tahu bahwa Konan itu adalah pacarnya Itachi dua tahun yang lalu. Itu berkat dari mitos yang sudah mengakar jauh di sekolah Ryousen Gatten, seharusnya Itachi berterima kasih dengan mitos itu.

"Cukup Sasori, jangan terus meledekku terus!" Dengus Itachi menarik pantatnya dari kursinya dengan paksa dan keluar dari ruangan meninggalkan Sasori seorang diri. "Woyy, Itachi. Tega sekali kau meninggalkan temanmu ini."

"Terserah…"

.

.

.

Ternyata mitos itu membawa sebuah hadiah bagi si sulung Uchiha mendapatkan hati seorang gadis, lagi-lagi. Berterimakasihlah dengan mitos itu.

.

.

.


In Konohagakure, 14 Desember 2011 at 20.12 p.m

.

.

Ramainya kota itu, terlihat betapa sibuknya orang berlalu lalang di jalan tanpa menghentikan rasa lelah mereka yang telah menguasai pikirannya. Lampu berkelap-kelip dengan warna-warni yang indah menambah suasana malam mini begitu romantis. Dingin menusuk kulit tak menghambat keempat gadis memasuki sebuah butik cukup terkenal di kota itu, dengan harganya yang tidak menguras dompet bahkan sangat berkualitas.

Butik Herline la Merci, itulah sebuah tempat tersedianya gaun-gaun yang bernilai sempurna serta aksen ruangannya membuat pengunjung betah untuk berlama-lama di sana atau sekedar duduk, mungkin bisa menikmati obrolan hangat dengan pemiliknya. Yang kita ketahui pemilik nya seorang pria berambut coklat kehitaman memakai baju T-shirt warna putih terkesan santai. Dia bernama

-Obito Uchiha-, di lihat dari namanya saja banyak yang mengetahui kalau ini salah satu bisnis milik keluarga klan Uchiha yang memegang kendali perekonomian kota Konahagakure. Dia adalah adik dari Fugaku Uchiha, Ayahnya dari Itachi dan Sasuke.

Dia tidak seperti kakaknya yang bergelut di perusahaan, laki-laki ini memang memegang banyak butik yang sudah tersebar di kota lain. Akan tetapi, dia lebih suka berada di butik kesayangannya ini.

Keempat gadis itu telah mengundang Obito untuk menghampiri mereka, "Apa yang bisa kubantu, nona?"

Sang gadis bernama Ino langsung menjawab basa-basi dari pemilik butik itu, "Kira-kira gaun yang pas untuk kami yang mana? Soalnya di sini harganya agak menguras jatah kami sebagai pelajar?" Agak ragu-ragu memilih gaun yang di depan matanya.

Obito pun menyunggingkan senyumnya, "Kalau untuk kalian, ada di sana—gaun-gaun itu harganya ekonomis juga tidak mengurangi jatah kalian. Silahkan mencoba, di sana juga banyak pilihan…"

"Arigatou, Uchiha-san." Ucap Sakura menundukkan kepalanya sedikit dan menyusul ketiga temannya yang sudah terlebih dulu ke sana, tempat yang di tujukan oleh Obito.

.

.


.

.

Gadis bermata Lavender itu mengambil gaun tanpa lengan warna ungu muda dengan aksen renda warna hitam tipis menghiasi pinggir gaun itu. Terlihat gaun itu panjangnya mencapai mata kaki, sangat cocok buat seorang Hinata yang terkesan lembut. Dia-pun mengambil topeng warna jingga dengan ungu yang telah di sediakan di butik itu, kemudian dia mencoba-nya di ruangan ganti.

"Cocok sekali Hinata, kau tampak anggun sekali. Pasti si bodoh itu, tak bisa mengenalmu—" Seringai jahil Ino membuat wajah Hinata memerah seperti kepiting rebus.

"Sakura, cepatlah kau mencoba gaun yang kau pilih itu! Kau membuat waktu terbuang habis.." Gerutu Tenten melipatkan tangannya, gadis ini sudah membayar gaun yang dipilihnya dan menunggu ketiga sahabatnya yang masih memilah-milih gaun yang akan dipakai untuk pesta itu.

"Bisakah kau sabar sedikit, Tenten." Bujuk Sakura dengan puppy eyes.

Tenten hanya mendengus kemudian dia mengambil telepon genggamnya tampaknya dia sedang berkirim pesan singkat dengan seseorang.

"Tampaknya kau kebingungan memilih gaun, nona." Ucap Obito menghampiri salah satu pelanggannya.

Sakura menoleh dan menganggukan kepalanya, dia bingung memilih kedua gaun yang berada di tangan kiri dan tangan kanannya. "Maaf sebelumnya, Uchiha-san. Kira-kira yang cocok mana? Aku agak bingung…"

Sekilas melihat kedua gaun itu, kemudian Obito mengambil gaun yang berada di tangan kiri Sakura. "Aku kira ini yang cocok dengan gadis manis sepertimu. Memang ada pesta yang membuat kalian harus membeli gaun-gaun ini?" Tanya Obito.

"Jangan menggodaku, Uchiha-san. Iya, ada pesta dansa topeng di sekolah kami." Jawab Sakura meletakkan kembali gaun yang berada di tangan kirinya.

"Kalau saya boleh tahu, dari sekolah mana kalian?" Obito agak ragu mengatakan hal yang tak penting itu.

Dan jawabannya adalah Ryousen Gatten School, jelas-jelas membuat laki-laki itu agak kaget dan mengembalikan emosinya semula. "Begitu ya, kalian pasti mengenal dengan keponakanku yang bernama Sasuke Uchiha, bukan?"

"Betul, memang ada apa Uchiha-san?"

Laki-laki itu menggeleng kepalanya, "Tidak apa-apa, hanya berta—" Ucapan Obito terpotong karena seorang pemuda berambut Dark Blue memasuki butik miliknya.

"Sasuke, kenapa kau datang ke sini?" Sakura bertanya agak terkejut.

"Aku hanya mengambil pakaian untuk pesta nanti, dan kenapa kau juga ada di sini jidat lebar?" Pemuda itu malah balik bertanya dengan Sakura.

"Kalau aku ke sini berarti membeli gaun, bukankah kau tahu jawabannya?"

Sasuke tanpa menjawab ucapan dari Sakura, dia langsung mengambil pesananan dan langsung melengos pergi. Tapi di tahan oleh Tenten dengan ucapannya. "Bisakah kau mengantar temanku, Sakura. Kebetulan kami bertiga ada keperluan sesuatu. Bisakan Sasuke?".

Pemuda itu menautkan alisnya tanda tak maksud atas permohonan dari gadis bercepol dua terhadap dirinya. "Maksud kalian, aku harus mengantar jidat lebar ke rumahnya. Memang aku bodyguardnya apa?"

"Ayolah Sasuke, sekali saja ya mengantar gadis itu. Bukankah dia teman sekelasmu?" Ucap Obito.

Setelah lama berpikir, Sasuke duduk di kursi tunggu di butik itu sambil mendengar I-pod tanpa memperdulikan apa yang telah diputuskannya. "Cepatlah, aku tidak punya waktu." Kemudian tak berselang lama, ketiga teman Sakura sudah pergi meninggalkannya karena mereka sudah membayar gaun yang dipilihnya.

Tanpa menunggu lama-lama, Sakura langsung membayar gaun yang telah di pilihnya. Tapi sang kasir menahan uang dari tangan Sakura. "Maaf, gaun ini sudah dibayar oleh tuan muda Sasuke Uchiha. Jadi nona tak perlu lagi membayarnya."

Sakura mengerjap-gerjapkan matanya seolah tak yakin atas pendengarannya itu seorang pangeran sok cool itu membayar gaunnya. Memang dia tidak bisa membayarnya apa? rasanya ia harus buat perhitungan.

"Aku sudah selesai, Sasuke-kun…" Dengan nada meninggi membuat Sasuke men-pause kan lagu yang di dengarnya dan menarik tangan Sakura keluar dari butik tersebut. "—Bisakah kau tidak selalu menarik tanganku, aku bisa jalan sendiri…" Gerutu Sakura.

"Hn…"

Mereka langsung memasuki mobil Aspache 224 milik tuan bungsu Uchiha, di dalam tercipta kesunyian diantara mereka berdua. seiring udara dingin AC mobil mengalirkan napasnya ke kulit kedua manusia berbeda gender ini. Tak ada yang memulai pembicaraan sampai suara getar telepon genggam Sasuke membuyarkan konsentrasi menyetirnya.

"Emm—Sakura, bisa kau mengambil I-phone ku di sakuku?"

"Ha', aku? kau kan bisa mengambil sendiri, Sasuke-kun…" Ucap Sakura menolak permintaan Sasuke.

"Sakura, aku sedang konsentrasi menyetir—jadi, apa susahnya mengambilnya?" Dengus Sasuke tanpa menoleh mata Emerlad Sakura.

Dengan nada menggerutu, Sakura mengambil I-phone Sasuke dari sakunya, akibat nafas nya mengalun di bahu Sasuke. Tingkat konsentrasinya terbuyar dan berakibat hampir menabrak tiang.

"What's the hell? Kau hampir membuat kita mati penasaran…" Sakura mengelus dadanya dan masih memegang telepon genggam Sasuke.

"Gara-gara nafasmu, yang membuat kita hampir mati. Jidat lebar!" Geram Sasuke menatap langsung Sakura.

"Jangan salahkan aku! kalau kau yang menyuruh mengambil telepon genggam laknat ini!" teriak Sakura hampir membanting benda elektronik itu akan tetapi ditahan tangan kekar Sasuke.

Hening menimpa keduanya, mereka agak menikmati tatapan itu yang semakin membuatnya terbius dengan alam yang menciptakan suasana itu. Tanpa sedetik mereka menyelami satu sama lain, tetapi—

Sakura dan Sasuke langsung menjauhkan mukanya masing-masing, terlihat mereka menghadap arah yang berlawanan menyembunyikan rasa malunya, wajah mereka merah seperti kepiting rebus.

"Ma-maaf, rumahmu ada dimana. Sakura?" Ucap Sasuke agak gugup yang kemudian menghidupkan mesin mobilnya.

"Tinggal belok kiri, kemudian lurus…" Jawab Sakura, "Ini telepon genggammu, sepertinya ada pesan singkat…" agak ragu mengatakannya.

"Bisakah kau membukanya?" Sasuke memohon, dan tak lama Sakura membuka pesan itu dan membacanya

From : Baka Otouto

Kau ada dimana, Sasuke?

"Sasuke-kun, ini dari kakakmu sepertinya." Sakura langsung memberi I-phone ke Sasuke, merasa sudah mendekati rumahnya, "—Err rumahku sudah sampai. Makasih atas tumpangannya." Interupsi Sakura.

Dia pun langsung menghentikan mobilnya, gadis berambut Sugarplum itu keluar dari berpamitan langsung dengan Sasuke yang telah keluar dari mobilnya juga. "Sasuke-kun, arigatou…"

Sakura langsung memasuki rumahnya dengan wajah berbinar-binar, dia langsung mengingat kejadian yang tak terulang lagi. Sekilas senyuman menguar dari bibir ranumnya membuat ibu nya tampak kebingungan melihat raut wajah gadisnya itu.

"Kau kenapa anakku? Kulihat sangat bahagia—ataukah kau sudah mempunyai pacar ya?" mata blink-blink ibu nya Sakura menambah semburat tipis dari pipi chubby-nya.

"Tidak, Kaa-san. Sudahlah aku ke kamar dulu…"

Sang ibu langsung membuka gorden jendela dan menatap apa yang tertangkap dari matanya, dan terlihat seorang pemuda baru memasuki mobil tampaknya dia menunggu gadis masuk ke dalam rumahnya. Lebih jelasnya di depan rumahnya, "Hmm, tampaknya ada yang mencuri hati gadisku…"

.

.


.

.

Pemuda berambut Dark Blue langsung memasuki mobil Aspache–nya, tanpa berbasa basi menghidupkan mesin mobilnya dan melaju cukup kencang. Terlintas tadi seorang ibu melihat dirinya, mungkin pikir ibu itu adalah "Siapa gerangan yang mengantar anakku ini?". Dia pun langsung menghubungi salah satu sahabatnya…,

"Ada apa Sasuke?"

"Shika, siapa yang akan menjadi pasanganmu nanti?"

"Mendokusai, kenapa kau bertanya itu? Entahlah…"

"Besok kau bisa datang lebih awal?"

"Memang kenapa, Sasuke? Ada dokumen yang harus di diskusikan, ya?"

"Pokoknya kau harus datang lebih awal…"

Tut..tut…, Sasuke langsung menutup panggilan, kemudian I-phone ia letakkan di samping jok mobilnya. Dan langsung melanjutkan perjalanan pulangnya.

Entah apa yang telah memainkan alur ini. Mitos telah mengikuti mereka tanpa sadar mengambil alih seakan mereka itu adalah aktris dan aktor dan yang berperan sebagai produser adalah waktu. Mungkin akan berubah dengan secuplik takdir-takdir dengan peristiwa tanpa di duga sebelumnya.

-Hukum ketertarikan…Mitos…membuat suasana menjadi menarik.

.

.

.


TBC

Gracia Notes

Baru kali ini saya membuat fic ini sampai tiga ribu lebih kata, *pecahkan rekor*, saya sudah berusaha sebaik-baiknya membuat feel nya supaya kerasa penjelasan ceritanya. Maafkan jika masih terdapat kesalahan kata ataupun misstyponya masih banyak.

Saya berharap cerita ini bisa di terima oleh kalian semua, Doumo untuk membacanya~~

Review kalian bisa membangkitkan semangat saya untuk melanjutkan ceritanya.

Salam**

Wulanz Aihara Uchiha-

Jumat, 16 Desember 2011

Larass and 23's stories: Galauan remaja SMA

Larass and 23's stories: Galauan remaja SMA: kenapa aku ada di sini lagi? kenapa aku tidak menyapu rumah? kenapa malah mengetik? entahlah, aku pun tak tau ._. yang aku tau aku...


"Kok tentang juara kelas itu?? persis kayak mbak eh. soalnyo mbak ugo di kenal galoo di sekolah ntuhh ^^*

Rabu, 07 September 2011

Super Junior -Mr Simple



Because you naughty, naughty, Hey! Mr. Simple
Because you naughty, naughty, Suju kanda!

Sesangi ne mang daero an dwindago hwaman nemyeon andwae keu reol pilyo opji
keokcheong-do paljada jakeun ire nomu yeonyeonhaji marja mome chuji ana

Sojeoki chuwatdaga napatdaga keureon keoji mwo cheung! seolchikhi uratdaga teoreochyeotda keureon taedo itji

eocheomyeon kwaenchanha swiweo kaneun keotdo chua modeun geoshi ttae, ttae, ttae, ttae, ttae-ga itneun keonikka

Keuttaega namja-ramyeon chingul manna sul han chane teoreobeorigo (Alright!) Alright

Keuttaega namja-ramyeon chingul manna suda tteoreo nallyeobeorigo (Alright!) Alright, Alright

*Bwara Mr. Simple, Simple Keuttae-neun Keuttae-neun Keuttae-ro meotchyeo
Bwara Miss Simple, SImple, Keuttae-neun Keuttae-ro yeppeo (SJ Call)
Bwara Mr. Simple, Simple Keuttae-neun Keuttae-neun Keuttae-ro meotchyeo
Bwara Miss Simple, SImple, Keuttae-neun Keuttae-ro yeppeo (SJ Call)

**Kaja kaja eoseo kaja Makhyeosseul ttaen dorakaja kot kotchi apa chukketdamyeon oneul haruman norgo boja
Han keurae-do keochin sesang chukeora ttwimyeon naman jicheo kidaryeobwa akkidwi pak neowi nari kot ultenikka

Blow Your Mind kara Mr. Simple
Blow Your Mind ttae-ga watjanha Duryeowo malgo
Blow Your Mind Kaja Mr. Simple
Blow Your Mind ttae-ga watjanha Junbi dwaetjanha

Sok sseokneun iri an doo kaji anin seseang-e urin sara keukeon ae-do ara
mwo ireohke eoryeopna uri chal meokgo chal jago tto charamyeon kereohke hamyeon dwiji

Keuttae-ga hwa-ga na-myeon chingul mannna dwitdamhwaro peureobeorigo (Alright!) Alright
Keuttae-ga kwireupda-nyeon norae borreo sori jilleo nalryeobeorigo (Alright!) Alright, Alright

*Repeat

Dance jaryuran-ke mwo keuri byeol geo ittna Just Get It Get It
Sosohan iltaree jaemi deung deung deung keung keung keung
Sara-ittneun keuttael neukki-go shipna Just Grab It Grab It
kaseum ttwineun ne kkum-deuri aeki deung deung deung keung keung keung
(Because You Naughty, Naughty)

Ije keokjeong hajima ap-en choo-eun nari ulkeoya Shimgakan aekin da dwiro mirwodugo
Oneur-eun barke useobwa keuddae-wi hwanhan useum-e modu kibon choha-chyeo

*Repeat

**Repeat

Blow Your Mind kara Mr. Simple